Tak Sepenuhnya Sesuai Tujuan, Ribuan Kursi Roda-Kursi Salat Hasil Wakaf Jemaah Haji Numpuk Tak Terpakai
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 7

HAMRANEWS.ID – Mewakafkan kursi roda atau kursi salat di Masjidil Haram selama ini menjadi salah satu bentuk amal yang cukup populer di kalangan jamaah haji dan umrah. Banyak yang berharap fasilitas tersebut dapat digunakan oleh para tamu Allah dalam jangka waktu lama sehingga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Namun, sebuah fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.
Seorang jamaah haji asal Malaysia, Haji Faizan Dasuki, yang juga merupakan pengusaha katering Rasa Catering Putrajaya, membagikan pengalaman yang ia temui saat menjalankan ibadah haji tahun ini. Dalam unggahan di media sosialnya, ia mengaku terkejut melihat tumpukan kursi roda dan kursi salat wakaf yang diletakkan di sebuah kawasan lapang dekat Muzium Haramain, Hudaibiyah, Makkah.
“Di sinilah lebihan kursi roda dan kursi salat wakaf Masjidil Haram dilonggokkan,” tulis Faizan.
Menurutnya, pemandangan tersebut ia lihat ketika rombongan jamaah yang dipimpinnya mengunjungi Museum Haramain. Bus yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan area terbuka yang luas, diperkirakan mencapai hampir 10 lapangan sepak bola.
Di lokasi tersebut tampak ribuan kursi roda dan kursi salat yang ditumpuk hingga membentuk gundukan besar. Menariknya, sebagian besar barang tersebut masih dalam kondisi layak pakai dan terlihat baik.
Temuan itu membuat Faizan memahami mengapa sejumlah pihak belakangan lebih menganjurkan jamaah untuk berinfak dalam bentuk makanan atau bantuan konsumsi dibandingkan barang-barang tertentu yang kemungkinan sudah melebihi kebutuhan yang ada.
Menurutnya, niat wakaf tentu sangat mulia. Namun, ketika jumlah barang yang diwakafkan jauh melampaui kebutuhan, manfaat yang diharapkan tidak lagi optimal.
Hal senada juga pernah disampaikan oleh pendakwah dan aktivis sosial Jay Ibrahim Al Islam atau yang akrab disapa Abang Aji. Ia mengingatkan para jamaah agar mempertimbangkan bentuk infak yang lebih langsung dirasakan manfaatnya oleh penerima.
“Kalau ingin berinfak, infakkan makanan. Biasanya begitu makanan diterima, langsung dimanfaatkan oleh jamaah. Apalagi jika berupa minuman dingin atau es krim saat cuaca panas,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah sedekah tidak hanya terletak pada besarnya pengorbanan, tetapi juga pada ketepatan sasaran dan manfaat yang dihasilkan. Di Tanah Suci, kebutuhan jamaah sangat beragam dan terus berubah. Karena itu, memahami kebutuhan aktual di lapangan menjadi penting agar amal yang diberikan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi para penerimanya.
Bagi calon jamaah yang ingin bersedekah atau berwakaf saat berada di Makkah dan Madinah, para pembimbing ibadah menyarankan untuk terlebih dahulu mencari informasi mengenai kebutuhan yang paling mendesak. Dengan demikian, niat baik untuk berbagi dapat memberikan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan bagi sesama jamaah.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



