Kemenhaj Ingin Asrama Haji Tak Cuma ‘Hidup’ Saat Musim Haji Saja
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

Logo Emblem Kementerian Haji dan Umrah
HAMRANEWS.ID – Sebagian besar aktivitas asrama haji selama ini terkonsentrasi pada satu periode: musim haji.
Di luar masa tersebut, berbagai fasilitas seperti kamar, aula hingga lahan berpotensi tidak termanfaatkan secara optimal.
Kondisi itu kini ingin diubah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI. Pemerintah mendorong asrama haji tidak sekadar menjadi tempat transit jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga dikelola sebagai aset produktif sepanjang tahun.
Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj, Ian Heriyawan, menyebut asrama haji memiliki potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Ia mengibaratkan asrama haji sebagai “raksasa yang tertidur”.
Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata membangun fasilitas baru, tetapi bagaimana aset yang sudah tersedia bisa memberikan manfaat lebih luas.
“Jangan sampai asrama haji hanya hidup satu musim. Kita memiliki aset yang besar, tetapi kalau sepanjang tahun tidak dimanfaatkan, justru menjadi beban operasional,” ujar Ian saat membuka Rapat Koordinasi Pengembangan Strategi Asrama Haji di Bekasi, Selasa 29 September 2026.
Menurut Ian, pemanfaatan tersebut dapat diperluas untuk kebutuhan akomodasi, perhotelan, manasik, pelatihan, pertemuan maupun kegiatan masyarakat.
Namun, ia menekankan perubahan tidak cukup dilakukan dengan menambah fungsi bangunan. Cara pengelolaan juga harus berubah agar asrama haji dapat berjalan lebih profesional, transparan dan memiliki keberlanjutan secara ekonomi.
“Mindset itu yang harus kita ubah. Mengubah mindset memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, asrama haji diharapkan tidak lagi hanya menjadi fasilitas yang membutuhkan biaya pemeliharaan ketika tidak digunakan untuk pelayanan haji. Sebaliknya, aset tersebut dapat terus dimanfaatkan dan memberikan nilai tambah sepanjang tahun, tanpa mengganggu fungsi utamanya untuk melayani jemaah.
Bukan Sekadar Bisnis
Meski mendorong produktivitas aset, Kemenhaj tidak ingin transformasi asrama haji semata-mata diarahkan menjadi bisnis perhotelan.
Ian menilai asrama haji tetap memiliki fungsi khusus karena menjadi tempat pertama jemaah memasuki rangkaian perjalanan ibadah haji.
Ia menyebut keberadaan asrama haji memiliki dimensi spiritual sebagai “doa iftitah” sebelum jemaah berangkat ke Tanah Suci.
“Dari aspek spiritual, asrama haji itu doa iftitah-nya. Di sinilah gerbang awal bagaimana membuka spiritual jemaah sebelum menuju Tanah Suci,” ujarnya.
Karena itu, peningkatan pemanfaatan aset harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas layanan. Asrama haji diharapkan memiliki lingkungan yang lebih nyaman, bersih, tertata dan memenuhi standar pelayanan yang baik.
Ian juga memperkenalkan gagasan Grand El-Hajj sebagai bagian dari upaya membangun standar dan citra baru asrama haji. Namun, menurut dia, perubahan nama atau identitas harus dibarengi perubahan nyata dalam kualitas pelayanan dan tata kelola.
“Justru asrama haji atau Grand El-Hajj yang harus terkenal dalam penyelenggaraan haji,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Nurchalis mengatakan asrama haji merupakan infrastruktur strategis dalam penyelenggaraan haji. Di luar fungsi tersebut, fasilitas yang tersedia juga berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, pengembangan asrama haji membutuhkan penguatan tata kelola, sumber daya manusia, digitalisasi serta model pengelolaan yang berkelanjutan.
Rapat koordinasi di Bekasi tersebut diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri atas pengelola asrama haji dari berbagai daerah serta pejabat dan pegawai Kemenhaj.
Forum tersebut diarahkan untuk menyusun program prioritas, indikator kinerja, rekomendasi kebijakan serta strategi pengembangan asrama haji.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi model pengelolaan yang benar-benar berjalan di lapangan.
Sebab, menjadikan asrama haji produktif sepanjang tahun bukan hanya soal mengisi kamar dan aula yang kosong, tetapi juga memastikan aset negara tersebut tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai fasilitas pelayanan jemaah haji.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli
