Harga Hotel di Mekkah Naik 300 Persen saat Ramadan, Tazkiyah Tour Upayakan Jemaah Selalu Menginap Dekat Masjidilharam
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month Rab, 31 Des 2025
- visibility 32

CEO Tazkiyah Group, Ahmad Yani Fachruddin
HAMRANEWS – Jemaah umrah selalu membludak saat memasuki Bulan Ramadan. Jumlahnya bahkan mencapai rekor tertinggi, terutama pada 10 hari terakhir, ketika umat Muslim dari seluruh dunia berlomba-lomba mengejar keutamaan ibadah di bulan suci.
Kondisi ini membuat Masjidil Haram tak pernah lowong. Bahkan saf salat kerap meluas hingga ke jalan-jalan dan pelataran pertokoan di sekitarnya.
Dalam talkshow Tazkiyah Tour yang dipandu Erick Alamsyah, Presiden Direktur PT Tazkiyah Global Mandiri, Ahmad Yani Fachruddin, mengungkapkan tantangan besar penyelenggaraan umrah Ramadan, khususnya terkait lonjakan biaya akomodasi dan transportasi yang sangat signifikan.
Menurut Ahmad Yani, umrah di bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan bulan-bulan lainnya. Selain dilaksanakan di Tanah Suci, ibadah ini dilakukan pada waktu yang sangat dimuliakan Allah SWT.
“Umrah Ramadan itu ibadah di tempat yang suci dan di waktu yang suci. Allah melipatgandakan pahala seluruh amal ibadah di bulan ini. Karena itu, umrah Ramadan sering disetarakan dengan haji bersama Rasulullah SAW,” ujarnya.
Tak hanya umrah, jemaah juga menjalani rangkaian ibadah lain seperti salat tarawih, tahajud, iktikaf, hingga khataman Al-Qur’an. Seluruh aktivitas tersebut, menurut dia, memiliki nilai spiritual yang jauh lebih kuat ketika dilakukan di Mekkah dan Madinah.
Tingginya minat umrah Ramadan berdampak langsung pada biaya. Ahmad Yani menyebutkan, harga hotel dan tiket pesawat bisa melonjak 200 hingga 300 persen dibandingkan bulan biasa.
“Permintaan datang dari seluruh dunia, sementara waktunya sangat terbatas, hanya satu bulan dalam setahun. Apalagi di 10 hari terakhir Ramadan, itu puncaknya,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pada Ramadan tahun lalu, kepadatan jemaah membuat saf salat di Masjidil Haram mencapai jarak hingga tiga kilometer dari area masjid. Kondisi ini turut memicu lonjakan harga hotel, terutama yang berada di radius dekat masjid.
Hotel Dekat Masjid Jadi Prioritas Utama
Di tengah lonjakan biaya tersebut, Tazkiyah Tour memilih untuk tetap mengutamakan hotel yang jaraknya dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Keputusan ini diambil demi efektivitas dan kenyamanan ibadah jemaah.
“Kalau hotel jauh dan harus naik shuttle bus, justru tidak efektif. Dari hotel ke masjid bisa 15 menit, tapi dari masjid kembali ke hotel bisa sampai 3-5 jam karena macet dan padatnya jemaah,” ujar Ahmad Yani.
Menurutnya, waktu jemaah akan banyak terbuang di perjalanan jika hotel terlalu jauh. Padahal, selama Ramadan –terutama 10 malam terakhir, waktu hampir 24 jam dimanfaatkan untuk ibadah, mulai dari sahur, salat Subuh, tarawih, tahajud, hingga iktikaf.
“Kalau hotel dekat, jemaah bisa cepat istirahat, fisik terjaga, dan ibadah lebih maksimal,” tambahnya.
Disiapkan Jauh Hari, Bukan Program Dadakan
Ahmad Yani menegaskan, seluruh program umrah Ramadan Tazkiyah Tour dipersiapkan sejak 10 hingga 11 bulan sebelumnya. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi overkapasitas hotel, keterbatasan penerbangan, hingga potensi kendala visa.
“Kami tidak pernah membuat program dadakan. Semua sudah dikontrak jauh hari, termasuk hotel dan maskapai, agar jemaah mendapat kepastian,” tegasnya.
Untuk Ramadan mendatang, Tazkiyah Tour telah menyiapkan beberapa pilihan program, mulai dari Sambut Ramadan, Awal Ramadan, hingga Akhir Ramadan yang memungkinkan jemaah fokus beribadah di 10 hari terakhir, bahkan sebagian melanjutkan puasa Syawal di Tanah Suci.
Musim Dingin, Ibadah Lebih Khusyuk
Menariknya, Ramadan dalam beberapa tahun ke depan bertepatan dengan musim dingin di Arab Saudi. Kondisi ini dinilai menjadi keuntungan tersendiri bagi jemaah.
“Cuaca lebih sejuk, waktu puasa lebih pendek, dan malam lebih panjang. Ini sangat mendukung ibadah malam seperti tahajud, tarawih, dan khataman Al-Qur’an,” jelas Ahmad Yani.
Konsistensi Hotel dan Pembimbing Berstandar
Sebagai bentuk komitmen pelayanan, Tazkiyah Tour juga menjaga konsistensi kerja sama dengan hotel-hotel yang sama selama bertahun-tahun. Langkah ini diambil untuk menjamin kualitas dan kepastian layanan bagi jemaah.
“Kami tidak pindah-pindah hotel. Standarnya sudah kami anggap baik dari sisi kualitas, jarak, dan kenyamanan. Yang terpenting, jemaah merasa tenang,” ujarnya.
Selain itu, pembimbing dan tour leader Tazkiyah Tour juga terus di-upgrade baik dari sisi kompetensi maupun kedekatan emosional dengan jemaah.
Fokus Ibadah, Bukan Sekadar Perjalanan
Ahmad Yani menutup dengan menegaskan bahwa umrah Ramadan bukan sekadar perjalanan religi, melainkan momentum total untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Di bulan Ramadan, orang tidak lagi memikirkan belanja. Fokusnya hanya ibadah, doa, dan spiritualitas. Karena itu, semua aspek perjalanan harus mendukung ketenangan dan kekhusyukan ibadah,” pungkasnya.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



