Harga Avtur Bakal Naik Lagi, Biaya Umrah Terancam Ikut Melambung
- account_circle Imam Dzulkifli
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

Jemaah haji menaiki pesawat Garuda Airlines.
HAMRANEWS.ID – Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur mulai menjadi perhatian bagi industri perjalanan udara, termasuk bisnis perjalanan umrah. Kebijakan pemerintah menaikkan batas maksimal ‘fuel surcharge’ (FS) penerbangan berpotensi membuat biaya perjalanan ke Tanah Suci ikut terkerek.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menetapkan fuel surcharge untuk penumpang kelas ekonomi dapat mencapai maksimal 40 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok layanan. Angka ini meningkat dari ketentuan sebelumnya yang maksimal 30 persen.
Kebijakan tersebut diterapkan setelah pemerintah melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan harga avtur. Berdasarkan harga yang ditetapkan penyedia bahan bakar penerbangan per 1 September 2026, rata-rata harga avtur nasional mencapai Rp23.315 per liter, naik sekitar 6,5 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Bagi maskapai, bahan bakar merupakan salah satu komponen penting dalam biaya operasional penerbangan. Ketika harga avtur meningkat dan *fuel surcharge* dinaikkan, biaya tiket penerbangan berpotensi ikut bertambah.
Dampaknya juga dapat dirasakan langsung oleh industri travel umrah.
Pasalnya, tiket pesawat merupakan salah satu komponen terbesar dalam paket perjalanan umrah. Ketika harga tiket mengalami penyesuaian, travel umrah pada akhirnya menghadapi pilihan sulit: menanggung kenaikan biaya atau meneruskannya kepada calon jemaah.
Pengalaman pada kenaikan harga avtur sebelumnya menunjukkan, travel umrah pada akhirnya mau tidak mau melakukan penyesuaian harga paket. Bahkan, kenaikan harga paket ketika itu sedikitnya berada di kisaran Rp1 juta per jemaah.
Dengan kondisi terbaru, bukan tidak mungkin harga paket umrah kembali mengalami kenaikan jika biaya penerbangan terus meningkat.
Bagi travel umrah, ruang untuk menyerap seluruh kenaikan biaya tentu terbatas. Bisnis perjalanan umrah memiliki banyak komponen biaya lain, mulai dari tiket pesawat, hotel, transportasi selama di Arab Saudi, konsumsi, visa hingga layanan jemaah.
Kenaikan pada salah satu komponen utama, terutama tiket pesawat, akan langsung memengaruhi struktur biaya paket.
Namun, kenaikan *fuel surcharge* 40 persen yang ditetapkan pemerintah merupakan batas maksimal, bukan berarti seluruh maskapai wajib menerapkan angka tersebut. Maskapai masih dapat menentukan besaran *fuel surcharge* sesuai strategi bisnis dan kondisi pasar.
Kementerian Perhubungan sendiri menyatakan akan mengawasi penerapan tarif penerbangan agar tetap transparan dan sesuai ketentuan.
Bagi calon jemaah umrah, kondisi ini menjadi sinyal untuk tidak hanya melihat harga paket yang ditawarkan travel. Komponen tiket pesawat dan kemungkinan adanya penyesuaian harga juga perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang berencana berangkat dalam beberapa bulan mendatang.
Jika harga avtur terus berada pada level tinggi, biaya penerbangan berpotensi menjadi tekanan baru bagi industri travel umrah. Dan seperti yang terjadi pada periode sebelumnya, kenaikan biaya tersebut pada akhirnya sangat mungkin bermuara pada satu hal: harga paket umrah yang semakin mahal.
- Penulis: Imam Dzulkifli
