I’tikaf Sepuluh Hari Akhir Ramadan, Cara Terbaik ‘Menepi’ dari Urusan-urusan Duniawi
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 12

Illustrasi Itikaf di Masjid
HAMRANEWS – Memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada fase akhir Ramadan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, zikir, dan doa.
I’tikaf menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilaksanakan pada waktu yang penuh keberkahan, yakni sepuluh malam terakhir Ramadan yang diyakini menjadi waktu turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Amalan yang Dicontohkan Nabi Muhammad SAW
Dalam berbagai riwayat hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW secara rutin melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir hingga beliau wafat, dan setelah itu para istri beliau melanjutkan amalan tersebut.
Hadis ini menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada tahun terakhir kehidupannya, Rasulullah memperpanjang i’tikaf hingga dua puluh hari sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.
Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah
I’tikaf secara bahasa berarti berdiam diri. Dalam konteks ibadah, i’tikaf diartikan sebagai berdiam diri di masjid dalam rangka fokus beribadah kepada Allah swt.
Tujuan utama dari i’tikaf adalah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga Dengan memfokuskan diri di masjid dan mengurangi urusan duniawi, diharapkan para mu’takif (orang yang melaksanakan i’tikaf) bisa memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa.
I’tikaf memberikan kesempatan bagi seorang muslim untuk fokus beribadah tanpa terganggu aktivitas duniawi. Dengan berdiam diri di masjid, seseorang dapat memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, bermuhasabah, dan memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Selain itu, i’tikaf juga menjadi momentum untuk membersihkan hati dan meningkatkan keimanan. Dalam suasana yang lebih tenang dan khusyuk di masjid, seorang muslim dapat memperbaiki kualitas ibadah serta memperbanyak doa.
Upaya Meraih Lailatul Qadar
Salah satu tujuan utama i’tikaf adalah untuk mencari malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. Karena waktu pasti turunnya malam tersebut dirahasiakan Allah, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dengan melaksanakan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir, peluang seorang muslim untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar menjadi lebih besar.
Tradisi Ibadah Sejak Zaman Nabi
Secara bahasa, i’tikaf berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam syariat Islam, i’tikaf dilakukan dengan berdiam di masjid disertai niat ibadah kepada Allah SWT. Praktik ini bahkan telah dikenal sejak masa Nabi Ibrahim AS, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 125 tentang orang-orang yang beribadah di Baitullah, termasuk mereka yang beri’tikaf.
Karena itu, i’tikaf bukan sekadar tradisi Ramadan, tetapi merupakan bagian dari syariat ibadah yang telah berlangsung sejak umat terdahulu.
Menghidupkan Malam-Malam Terakhir Ramadan
Para ulama mengingatkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah fase paling istimewa dalam bulan suci. Pada masa ini, umat Islam dianjurkan untuk “mengencangkan ibadah”, baik dengan qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, maupun melaksanakan i’tikaf di masjid.
Dengan memanfaatkan kesempatan tersebut, diharapkan seorang muslim dapat meraih keberkahan Ramadan secara maksimal dan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



