Titik Rumah Khadijah di Masjidil Haram, Saksi Turunnya Wahyu dan Awal Peristiwa Isra Mi’raj
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- visibility 17
- print Cetak

Titik lokasi Rumah Khadijah Istri Pertama Rasulullah SAW
HAMRANEWS.ID – Di tengah kompleks Masjidil Haram, tepatnya di kawasan dekat pintu keluar Marwah, terdapat sebuah lokasi yang diyakini sebagai bekas rumah Rasulullah SAW bersama istri beliau, Siti Khadijah RA. Meski kini hanya ditandai dengan ubin marmer bercorak berbeda, tempat ini menyimpan jejak penting perjalanan dakwah Islam.
Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan sebagian sejarawan meyakini rumah tersebut berada di lokasi yang kini diberi penanda khusus di lantai pelataran Masjidil Haram.
“Di tempat yang di-blok ini, di sinilah dahulu rumah Nabi SAW bersama istri beliau tercinta Siti Khadijah RA. Oleh karena rumah ini dihadiahkan oleh Siti Khadijah, maka dia populer dengan sebutan Rumah Khadijah,” ujar Musyaddad saat memandu tur jejak sirah di kawasan Masjidil Haram.
Rumah itu menjadi tempat Rasulullah SAW tinggal bersama Khadijah selama sekitar 28 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Di sanalah Malaikat Jibril berulang kali menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW, dan seluruh putra-putri beliau dari Khadijah dilahirkan.
Rumah tersebut juga menjadi tempat Rasulullah SAW kembali setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dalam keadaan menggigil, beliau disambut dan ditenangkan oleh Khadijah yang terus mendampingi perjuangan dakwah sejak awal.
“Di sinilah Rasulullah SAW diselimuti oleh sang istri tercinta saat beliau pulang dari Gua Hira. Di sinilah Rasulullah SAW membangun keluarga yang paling bahagia dalam sejarah kehidupan manusia,” kata Musyaddad.
Menurut Musyaddad, kemuliaan rumah itu juga diakui para ulama. Imam Al-Muhibbuddin Ath-Thabari bahkan menyebut Rumah Khadijah sebagai tempat paling mulia di Kota Makkah setelah Masjidil Haram.
Selain menjadi tempat turunnya wahyu, rumah tersebut juga menjadi saksi pengorbanan luar biasa Siti Khadijah RA. Ia tidak hanya mendampingi Rasulullah SAW sebagai istri, tetapi juga mengorbankan harta dan seluruh kemampuannya demi mendukung dakwah Islam.
Kemuliaan Khadijah bahkan mendapat penghormatan langsung dari Allah SWT. Dalam sebuah riwayat, Malaikat Jibril meminta Rasulullah SAW menyampaikan salam dari Allah kepada Khadijah sebagai bentuk penghargaan atas keimanan dan pengorbanannya.
Namun, rumah itu juga menyimpan kisah paling menyedihkan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Pada tahun ke-10 kenabian, Khadijah wafat. Tidak lama kemudian, Abu Thalib yang selama ini melindungi Rasulullah SAW juga meninggal dunia. Periode itu dikenal sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Setelah mengalami berbagai cobaan, Rasulullah SAW berdakwah ke Thaif, tetapi justru mendapat penolakan dan perlakuan kasar. Saat kembali ke Makkah, beliau memasuki rumah yang selama ini menjadi tempat berbagi suka dan duka bersama Khadijah.
“Ketika beliau sampai di rumah ini, beliau masuk. Dan sudah tidak ada lagi Khadijah. Sudah tidak ada lagi sang istri tercinta yang biasa menyambut beliau dalam suka dan duka,” tutur Musyaddad.
Di tengah masa penuh ujian itulah Allah SWT menghibur Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Mi’raj. Dari Masjidil Haram, beliau diperjalankan menuju Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dan menerima perintah salat lima waktu.
Musyaddad mengatakan, peristiwa itu mengajarkan bahwa setelah ujian yang berat, Allah memberikan jalan penguatan melalui ibadah salat.
“Di sinilah kita mengerti bahwa seberat apa pun masalah kita di dalam kehidupan dunia ini jawabannya adalah salat,” ujarnya.
Bagi umat Islam, lokasi bekas Rumah Khadijah bukan sekadar penanda sejarah. Tempat itu menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW, mulai dari turunnya wahyu pertama, lahirnya keluarga teladan, pengorbanan Siti Khadijah RA, masa-masa penuh kesedihan, hingga menjelang peristiwa Isra Mi’raj yang menguatkan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli
