Berita Terkini
light_mode
Trending Tags
Beranda » Lainnya » Makna Ramadan Diulas dalam Sekolah Haji Tazkiyah: Bulan Pembakaran Dosa dan Madrasah Penyucian Jiwa

Makna Ramadan Diulas dalam Sekolah Haji Tazkiyah: Bulan Pembakaran Dosa dan Madrasah Penyucian Jiwa

  • account_circle Muhammad Fadli
  • calendar_month Senin, 29 Des 2025
  • visibility 476
  • print Cetak

HAMRANEWS – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri, baik itu secara fisik maupun spiritual.

Lewat tausiyah program Sekolah Haji Tazkiyah, Kiyai Dr. H. Abdul Wahid Hadade, Lc., MA menjelaskan bahwa Ramadan bukan cuma bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai bulan penyucian jiwa dan pembentukan karakter.

Kiyai Abdul Wahid mengawali tausiyah dengan mengingatkan sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab, sebagai persiapan menuju Ramadan:

“Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya‘bana wa ballighna Ramadan.”

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya‘ban, dan panjangkanlah umur kami hingga bertemu bulan Ramadan.”

Doa ini menjadi ikhtiar spiritual agar Allah SWT memberi keberkahan usia dan kesempatan untuk kembali beribadah di bulan suci.

“Bapak Ibu sekalian, ini doa yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kepada kita semua,bahwa ketika kita berada di bulan Rajab, maka selalulah kita membaca doa ini,” ucap Kiyai Abdul Wahid.

Secara bahasa, lanjut Abdul Wahid, kata Ramadan berasal dari bahasa Arab ramida–yarmudu yang berarti panas yang sangat menyengat. Dalam kamus-kamus Arab klasik, Ramadan juga dimaknai sebagai tanah atau batu yang terbakar terik matahari.

Makna kebahasaan ini, menurut Kiyai Abdul Wahid, memiliki hubungan erat dengan makna filosofis Ramadan. Panas yang membakar itu menjadi simbol bahwa Ramadan adalah bulan yang membakar dosa-dosa manusia dan membersihkan jiwa dari noda maksiat.

Ramadan sebagai Bulan Pembakaran Dosa dan Pengendalian Nafsu

Secara filosofis, Ramadan dimaknai sebagai bulan yang membakar dosa-dosa yang melekat pada diri manusia, mengendalikan hawa nafsu yang berpotensi menjerumuskan dan memurnikan jiwa dari karat maksiat.

Puasa bukan berarti menghilangkan hawa nafsu sepenuhnya, melainkan mengendalikan dan menertibkannya agar manusia tidak diperbudak oleh dorongan duniawi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, orang yang menunaikan puasa dan salat malam di bulan Ramadan dengan baik akan kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Ramadan sebagai Madrasah Rohaniah

Ulama menyebut Ramadan sebagai madrasah rohaniah, sekolah jiwa dan ruh manusia. Selama satu bulan penuh, manusia digembleng untuk:

Membersihkan hati

Mengendalikan diri

Menguatkan hubungan dengan Allah SWT

Jiwa yang kotor akan melahirkan kegelisahan dan kehidupan yang sempit. Sebaliknya, jiwa yang bersih akan menghadirkan kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman batin.

Ramadan sebagai Bulan Al-Qur’an

Ramadan juga dikenal sebagai Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:

“Syahrur Ramadân alladzî unzila fîhil Qur’ân…”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itu, Kiyai Abdul Wahid menganjurkan agar umat Islam tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca terjemahannya dan mentadaburinya. Banyak orang merasa mengantuk saat membaca Al-Qur’an bukan karena gangguan setan, melainkan karena tidak memahami maknanya.

Al-Qur’an, menurut Rasulullah SAW, adalah jamuan Allah di muka bumi. Rugi orang yang tidak menghadirinya, dan lebih rugi lagi orang yang menghadiri jamuan itu tetapi tidak menyantap isinya.

Bulan Pengendalian Diri dan Kejujuran

Puasa mengajarkan manusia tentang pengendalian diri dan kejujuran. Meski makanan, minuman, dan pasangan halal tersedia, seseorang menahan diri semata-mata karena ketaatan kepada Allah SWT.

Kejujuran sejati terlihat saat seseorang berpuasa, ketika tidak ada yang melihat kecuali Allah. Nilai ini kemudian berdampak langsung pada kehidupan sosial dan moral seseorang.

Bulan Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Rasa lapar dan haus selama puasa menumbuhkan empati terhadap kaum lemah. Ramadan mengajarkan kepedulian kepada fakir miskin, dhuafa, dan mereka yang hidup serba kekurangan.

Dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain, tumbuhlah solidaritas sosial dan kesadaran untuk berbagi, baik melalui sedekah, zakat, maupun kepedulian sosial lainnya.

Bagikan Berita:
  • Penulis: Muhammad Fadli
  • Editor: Fitriani Heli

Rekomendasi Untuk Anda

  • Skema Dana Talangan Haji lewat Bank Muamalat yang Bisa Diambil lewat Travel Anggota HIMPUH

    Skema Dana Talangan Haji lewat Bank Muamalat yang Bisa Diambil lewat Travel Anggota HIMPUH

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 827
    • 0Komentar

    JAKARTA – Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menjalin kemitraan dengan Bank Muamalat dengan fokus pada program pembiayaan bagi jemaah haji khusus. Pertemuan keduanya berlangsung di Graha HIMPUH Jakarta pada Rabu 17 September 2025. Dalam kemitraan tersebut, Bank Muamalat akan menawarkan skema dana talangan haji berupa plafon pembiayaan yang berkisar sebesar USD 4.000 per jemaah, […]

    Bagikan Berita:
  • Surah Yusuf Awards, Tazkiyah Group Beri Penghargaan kepada Hafiz Alquran

    Surah Yusuf Awards, Tazkiyah Group Beri Penghargaan kepada Hafiz Alquran

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 406
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Dukungan untuk para hafiz Alquran ditunjukkan Tazkiyah Group melalui dukungan dalam ajang Surah Yusuf Awards. Mengusung tema “Spiritual Experience with Surah Yusuf”, kompetisi ini digelar pada 15 Februari 2026 di Hotel MYKO Makassar dan diikuti para santri rumah tahfiz di Makassar dan sekitarnya. Ajang ini bukan sekadar lomba hafalan. Surah Yusuf Awards dirancang […]

    Bagikan Berita:
  • Pemerintah Upayakan Beban Jemaah Haji 2027 Lebih Ringan, Skema Pembayaran Diusul Tetap 40 Persen

    Pemerintah Upayakan Beban Jemaah Haji 2027 Lebih Ringan, Skema Pembayaran Diusul Tetap 40 Persen

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 144
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Pemerintah mengusulkan agar skema pembiayaan haji 2027 tetap menggunakan komposisi 60:40, yakni 60 persen berasal dari nilai manfaat pengelolaan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), sementara 40 persen dibayar langsung oleh jemaah melalui Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Usulan tersebut telah disampaikan kepada DPR RI sebagai bagian dari pembahasan Biaya Penyelenggaraan […]

    Bagikan Berita:
  • Cerita Pembimbing Haji, Tazkiyah Tour Soal Bekal Makanan Jemaah Haji Khusus Play Button

    Cerita Pembimbing Haji, Tazkiyah Tour Soal Bekal Makanan Jemaah Haji Khusus

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 680
    • 0Komentar

    Cerita Pembimbing Haji, Tazkiyah Tour Soal Bekal Makanan Jemaah Haji Khusus https://www.youtube.com/watch?v=om-G6f2ZivM&t=1748s Bagikan Berita:

    Bagikan Berita:
  • Muhammad Yusuf S., Senior Representative Manager Funding & Haji Bank Muamalat Cabang Makassar

    Program Cicil Biaya Haji ‘Prohajj Plus’ di Tazkiyah Tour, Lebih Cepat dan Sesuai Syariah

    • calendar_month Minggu, 13 Jul 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 512
    • 0Komentar

    MAKASSAR – Dalan rangka mewujudkan mimpi umat muslim untuk beribadah, perusahaan haji dan umrah di Makassar, Tazkiyah Tour menggandeng Bank Muamalat terkait pembiayaan jenis multiguna untuk haji khusus. Untuk produk pembiayaan ini, Bank Muamalat menawarkan layanan pembiayaan haji khusus, yang bisa dicicil jika mendaftar lewat perusahaan umrah Tazkiyah Tour yang berlokasi di Jalan AP Pettarani […]

    Bagikan Berita:
  • Kepuasan Jemaah Haji dari Tanah Air Hingga Kembali Catat Angka 83,28 Persen

    Kepuasan Jemaah Haji dari Tanah Air Hingga Kembali Catat Angka 83,28 Persen

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 122
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Pemerintah mengubah cara mengukur kepuasan jemaah haji Indonesia. Mulai 2026, penilaian tidak lagi hanya melihat hasil layanan yang diterima jemaah, tetapi mencakup seluruh proses penyelenggaraan haji, sejak dari dalam negeri hingga Arab Saudi. Perubahan itu tercermin dalam Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) 2026 yang mencapai 83,28 persen atau masuk kategori sangat memuaskan. […]

    Bagikan Berita:
expand_less