19,5 Juta Jemaah Berkunjung Tiap Tahun, Makkah Berbenah Jadi Kota Global Berbasis AI
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

HAMRANEWS.ID – Makkah tak lagi hanya menghadapi tantangan bagaimana menerima jutaan jemaah, tetapi juga bagaimana mengubah gelombang manusia yang datang setiap tahun menjadi ekosistem kota yang lebih modern, efisien, dan bernilai ekonomi.
Sepanjang 2025, lebih dari 19,5 juta jemaah dan pengunjung internasional tercatat datang ke Makkah. Sekitar 18,03 juta merupakan jemaah umrah, sementara 1,5 juta lainnya menjalankan ibadah haji.
Besarnya arus kunjungan itu membuat Makkah berada di persimpangan penting. Kota suci ini harus menambah kapasitas layanan sekaligus membangun infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan jemaah dari berbagai negara.
Jumlah jemaah umrah bahkan melonjak 114 persen dibandingkan 2022.
Pertumbuhan tersebut kemudian menjadi salah satu pendorong perubahan besar-besaran di Makkah. Pembangunan tidak lagi berhenti pada hotel, jalan, dan fasilitas ibadah, tetapi merambah teknologi, tata kota, ekonomi, hingga pengelolaan pergerakan jutaan orang.
Dalam laporan Pilgrim Experience Program 2025, sebanyak 87 inisiatif dijalankan dengan melibatkan lebih dari 60 entitas. Tingkat kepatuhan terhadap pelaksanaan program tercatat mencapai 100 persen.
Ketika jutaan jemaah menjadi penggerak ekonomi
Gelombang jemaah tersebut menciptakan kebutuhan ekonomi dalam skala yang sangat besar.
Perumahan, hotel, restoran, ritel, transportasi, logistik hingga usaha kecil dan menengah ikut berkembang mengikuti kebutuhan jutaan pengunjung.
Transformasi ini membuat ekonomi Makkah perlahan bergerak menuju struktur yang lebih beragam. Kota tidak hanya mengandalkan aktivitas yang berkaitan langsung dengan ibadah, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang tumbuh di sekitar perjalanan dan pengalaman jemaah.
Dekan College of Business and Economics Umm Al-Qura University, Dr. Musab bin Kamal Al-Subhi, menilai perkembangan tersebut mendorong Makkah menuju ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Investasi dan aktivitas usaha juga meningkat seiring pertumbuhan jumlah jemaah.
Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut membawa tantangan lain: bagaimana kota tetap mampu mempertahankan karakter sejarah dan religiusnya.
Dekan College of Engineering and Architecture Umm Al-Qura University, Dr. Omar Osrah, menekankan pentingnya perencanaan kota yang mampu mengakomodasi ekspansi tanpa menghilangkan identitas Islam dan sejarah Makkah.
Makkah mulai mengandalkan AI
Di tengah ledakan jumlah pengunjung, teknologi menjadi bagian penting dari solusi.
Makkah bergerak menuju konsep smart city, dengan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI serta analisis data untuk mengelola fasilitas, pergerakan massa, pelayanan, hingga aspek keamanan.
Artinya, jutaan jemaah yang bergerak dari satu titik ke titik lain tidak lagi hanya dikelola melalui pembangunan fisik. Data menjadi bagian dari cara kota membaca kepadatan, mengatur layanan, dan mengambil keputusan.
Kebutuhan tersebut semakin besar karena jemaah datang dari berbagai penjuru dunia.
Pada 2025, Pakistan, Indonesia, dan Mesir tercatat sebagai tiga negara dengan jumlah warga terbanyak yang datang menggunakan visa umrah.
Makkah pun menghadapi tantangan baru: bagaimana mengelola kota yang pengunjungnya berasal dari berbagai negara, bahasa, budaya, dan pola perjalanan.
Kepuasan jemaah ikut menjadi ukuran
Transformasi tersebut tercermin dalam pengalaman pengguna layanan.
Tingkat kepuasan jemaah haji pada 2025 mencapai 91 persen, sedangkan jemaah umrah mencapai 94 persen. Capaian tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam Saudi Vision 2030.
Sebanyak 184.569 relawan juga terlibat dalam berbagai layanan bagi jemaah.
Sementara jumlah visa yang diterbitkan untuk umrah, kunjungan, dan keperluan lainnya mencapai 15,03 juta, dengan sekitar 83 persen di antaranya merupakan visa umrah.
Di sisi lain, pengembangan situs sejarah dan destinasi budaya terus dilakukan. Sebanyak 87 lokasi di Makkah dan Madinah telah dikualifikasi, dengan total kunjungan mencapai lebih dari 55 juta.
Wajah Makkah terus berubah
Transformasi fisik terlihat melalui sejumlah proyek strategis seperti kawasan Masar dan Jabal Omar, disertai peningkatan lingkungan permukiman, jaringan jalan, dan fasilitas publik.
Proyek-proyek tersebut bukan sekadar mempercantik kota. Infrastruktur baru dirancang untuk menambah daya tampung sekaligus membuat jutaan jemaah dapat bergerak dengan lebih teratur.
Dalam laporan tahunan Pilgrim Experience Program, Makkah bahkan menempati peringkat kelima dunia sebagai kota dengan jumlah pengunjung internasional terbanyak.
Angka itu memperlihatkan skala perubahan yang sedang berlangsung.
Makkah kini menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang bagi jemaah.
Kota suci ini sedang membangun sebuah ekosistem raksasa yang mempertemukan ibadah, teknologi, infrastruktur, pariwisata, investasi dan ekonomi.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli
