Sisi Lain Kesemrawutan Haji 2025: Lansia dan Risti Berjam-jam Tunggu Bis, Tanpa Pendamping
- account_circle REDAKSI
- calendar_month Rab, 11 Jun 2025
- visibility 347

Jemaah risti yang kelelahan menunggu bis.(ist)
MAKKAH – Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), seharusnya menjadi puncak kekhusyukan dan kekhidmatan bagi jutaan umat Muslim dari seluruh dunia.
Akan tetapi, bagi sebagian jamaah Indonesia pada 2025, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti), itu justru jadi momen paling melelahkan.
Salah satunya diungkapkan oleh Irfan Nuruddin, jamaah haji asal Indonesia yang juga merupakan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam unggahan panjangnya di media sosial, Irfan mengungkapkan dengan sedih kekacauan dan ketidakmanusiawian penanganan haji saat murur (melintasi Muzdalifah tanpa mabit; biasanya untuk lansia dan risti).
“Di antara kesemrawutan ketika Armuzna, aku sampek mau menangis melihat jamaah-jamaah lansia dan risti berjam-jam menunggu bis untuk mengantar mereka murur,” tulis Irfan.
Menurut Irfan, di sektor 5 tempat ia berada, bus untuk murur hanya datang setiap setengah jam sekali — padahal jumlah jamaah yang harus diangkut sangat besar. Tak hanya itu, akses ke area keberangkatan bus justru menggunakan gerbang yang tidak ramah lansia: berundak dan berpasir.
“Padahal banyak gerbang lain yang rata dan berpaving, tapi entah kenapa mereka justru diarahkan ke jalur sulit itu,” keluh Irfan.
“Bayangkan kursi roda harus melewati pasir dan undakan, tanpa bantuan, karena yang muda-muda dilarang ikut murur.”
Para lansia pun dibiarkan sendiri, tanpa pendamping, tanpa pengatur, tanpa arahan. Beberapa bahkan tampak kebingungan dan panik, hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa.
Terpaksa Melanggar Aturan demi Membantu Lansia
Melihat situasi ini, Irfan memutuskan untuk tidak patuh pada perintah petugas syarikah yang memintanya naik bus lebih dulu. Ia berpura-pura geser dari antrean, kemudian kembali diam-diam demi mendampingi puluhan lansia yang tampak telantar.
“Untungnya aku ngeyel tetap di situ,” kata Irfan. Bersama seorang pemuda dari Boyolali bernama Naim, mereka mengatur dan membantu sekitar 60 jamaah lansia dari kloter 78 dan beberapa kloter lain, mengangkat kursi roda, mengatur antrean, bahkan menenangkan jamaah yang mulai panik.
Salah satu yang paling menyayat hati adalah seorang jamaah perempuan lansia, duduk di kursi roda, sulit berkomunikasi, dan tidak didampingi keluarga. Irfan bertanya ke rombongan lain, yang juga sepuh: “Apa ini ada keluarganya?” Jawabnya: “Tidak ada.”
“Ya Allah, bagaimana kesehariannya? Ke kamar mandi? Sholat? Dengan kondisi seperti ini, kok bisa diloloskan istito’ahnya?” tanya Irfan, menyindir sistem seleksi kelayakan jamaah yang tampaknya longgar untuk yang tak layak, tapi justru menyulitkan yang masih mampu.
13 Jam di Bus, 1,5 km Jalan Kaki di Bawah Terik Matahari
Setelah semua lansia berhasil diangkut, Irfan dan Naim ikut dalam bus terakhir pukul 3 dini hari. Perjalanan dari Arafah ke Mina — yang hanya sejauh 17 km — justru memakan waktu hampir 13 jam akibat kemacetan luar biasa. Para lansia tidak berani minum karena takut tidak bisa buang air, dan mereka terus-menerus bertanya, “Kok gak sampai-sampai?”
Irfan mencoba menenangkan: “Tenang mawon Mbah Kung, lebih baik kita di dalam bis, ada AC, daripada jalan dan kepanasan.”
Namun penderitaan belum selesai. Ketika bus akhirnya mendekati area tenda, Irfan meminta sopir berhenti. Tapi bus justru melaju terus, berhenti di depan RS Al Wadi Mina — sekitar 1,5 km dari lokasi tenda. Saat diminta kembali, sopir menyanggupi tapi meminta bayaran 200 riyal.
“Aku iyain saja, karena tidak mungkin para lansia itu jalan kaki di tengah panas 45°C, banyak yang kursi roda. Siapa yang mendorong?”
Akhirnya, setelah muter lagi dan terjebak macet, rombongan baru bisa turun mendekati tenda jam 1 siang — 10 jam lebih setelah berangkat. Mereka disambut jamaah lain yang justru lebih dulu tiba meski berjalan kaki dari Muzdalifah.
Kritik Terbuka: Sistem yang Abai dan Mental Aji Mumpung
Dalam akhir ceritanya, Irfan juga mengkritik mentalitas sejumlah pihak yang dinilainya memanfaatkan situasi. Ia menyebut sopir bus sengaja “berdrama” untuk mendapatkan uang tambahan. Ia juga mencatat, tarif taksi yang biasanya 20 riyal, melonjak jadi 100 hingga 120 riyal.
“Kayaknya semua pada aji mumpung,” tulisnya getir. “Aku cuma bisa nehik-nehik saja.”
Kesaksian Irfan Nuruddin menjadi tamparan keras bagi otoritas penyelenggara haji. Persiapan teknis, fasilitas transportasi, dan verifikasi istito’ah harus dievaluasi menyeluruh. Jika lansia tidak didampingi, ditempatkan di jalur tidak ramah, dan harus menempuh jam-jam panjang tanpa bantuan, maka sistem ini tidak sedang melayani ibadah, tapi menciptakan penderitaan.
- Penulis: REDAKSI



