Berita Terkini
light_mode
Trending Tags
Beranda » Haji » Sisi Lain Kesemrawutan Haji 2025: Lansia dan Risti Berjam-jam Tunggu Bis, Tanpa Pendamping

Sisi Lain Kesemrawutan Haji 2025: Lansia dan Risti Berjam-jam Tunggu Bis, Tanpa Pendamping

  • account_circle REDAKSI
  • calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
  • visibility 624
  • print Cetak

MAKKAH – Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), seharusnya menjadi puncak kekhusyukan dan kekhidmatan bagi jutaan umat Muslim dari seluruh dunia.

Akan tetapi, bagi sebagian jamaah Indonesia pada 2025, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti), itu justru jadi momen paling melelahkan.

Salah satunya diungkapkan oleh Irfan Nuruddin, jamaah haji asal Indonesia yang juga merupakan warga Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam unggahan panjangnya di media sosial, Irfan mengungkapkan dengan sedih kekacauan dan ketidakmanusiawian penanganan haji saat murur (melintasi Muzdalifah tanpa mabit; biasanya untuk lansia dan risti).

“Di antara kesemrawutan ketika Armuzna, aku sampek mau menangis melihat jamaah-jamaah lansia dan risti berjam-jam menunggu bis untuk mengantar mereka murur,” tulis Irfan.

Menurut Irfan, di sektor 5 tempat ia berada, bus untuk murur hanya datang setiap setengah jam sekali — padahal jumlah jamaah yang harus diangkut sangat besar. Tak hanya itu, akses ke area keberangkatan bus justru menggunakan gerbang yang tidak ramah lansia: berundak dan berpasir.

“Padahal banyak gerbang lain yang rata dan berpaving, tapi entah kenapa mereka justru diarahkan ke jalur sulit itu,” keluh Irfan.
“Bayangkan kursi roda harus melewati pasir dan undakan, tanpa bantuan, karena yang muda-muda dilarang ikut murur.”

Para lansia pun dibiarkan sendiri, tanpa pendamping, tanpa pengatur, tanpa arahan. Beberapa bahkan tampak kebingungan dan panik, hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa.

Terpaksa Melanggar Aturan demi Membantu Lansia

Melihat situasi ini, Irfan memutuskan untuk tidak patuh pada perintah petugas syarikah yang memintanya naik bus lebih dulu. Ia berpura-pura geser dari antrean, kemudian kembali diam-diam demi mendampingi puluhan lansia yang tampak telantar.

“Untungnya aku ngeyel tetap di situ,” kata Irfan. Bersama seorang pemuda dari Boyolali bernama Naim, mereka mengatur dan membantu sekitar 60 jamaah lansia dari kloter 78 dan beberapa kloter lain, mengangkat kursi roda, mengatur antrean, bahkan menenangkan jamaah yang mulai panik.

Salah satu yang paling menyayat hati adalah seorang jamaah perempuan lansia, duduk di kursi roda, sulit berkomunikasi, dan tidak didampingi keluarga. Irfan bertanya ke rombongan lain, yang juga sepuh: “Apa ini ada keluarganya?” Jawabnya: “Tidak ada.”

“Ya Allah, bagaimana kesehariannya? Ke kamar mandi? Sholat? Dengan kondisi seperti ini, kok bisa diloloskan istito’ahnya?” tanya Irfan, menyindir sistem seleksi kelayakan jamaah yang tampaknya longgar untuk yang tak layak, tapi justru menyulitkan yang masih mampu.

13 Jam di Bus, 1,5 km Jalan Kaki di Bawah Terik Matahari

Setelah semua lansia berhasil diangkut, Irfan dan Naim ikut dalam bus terakhir pukul 3 dini hari. Perjalanan dari Arafah ke Mina — yang hanya sejauh 17 km — justru memakan waktu hampir 13 jam akibat kemacetan luar biasa. Para lansia tidak berani minum karena takut tidak bisa buang air, dan mereka terus-menerus bertanya, “Kok gak sampai-sampai?”

Irfan mencoba menenangkan: “Tenang mawon Mbah Kung, lebih baik kita di dalam bis, ada AC, daripada jalan dan kepanasan.”

Namun penderitaan belum selesai. Ketika bus akhirnya mendekati area tenda, Irfan meminta sopir berhenti. Tapi bus justru melaju terus, berhenti di depan RS Al Wadi Mina — sekitar 1,5 km dari lokasi tenda. Saat diminta kembali, sopir menyanggupi tapi meminta bayaran 200 riyal.

“Aku iyain saja, karena tidak mungkin para lansia itu jalan kaki di tengah panas 45°C, banyak yang kursi roda. Siapa yang mendorong?”

Akhirnya, setelah muter lagi dan terjebak macet, rombongan baru bisa turun mendekati tenda jam 1 siang — 10 jam lebih setelah berangkat. Mereka disambut jamaah lain yang justru lebih dulu tiba meski berjalan kaki dari Muzdalifah.

Kritik Terbuka: Sistem yang Abai dan Mental Aji Mumpung
Dalam akhir ceritanya, Irfan juga mengkritik mentalitas sejumlah pihak yang dinilainya memanfaatkan situasi. Ia menyebut sopir bus sengaja “berdrama” untuk mendapatkan uang tambahan. Ia juga mencatat, tarif taksi yang biasanya 20 riyal, melonjak jadi 100 hingga 120 riyal.

“Kayaknya semua pada aji mumpung,” tulisnya getir. “Aku cuma bisa nehik-nehik saja.”

Kesaksian Irfan Nuruddin menjadi tamparan keras bagi otoritas penyelenggara haji. Persiapan teknis, fasilitas transportasi, dan verifikasi istito’ah harus dievaluasi menyeluruh. Jika lansia tidak didampingi, ditempatkan di jalur tidak ramah, dan harus menempuh jam-jam panjang tanpa bantuan, maka sistem ini tidak sedang melayani ibadah, tapi menciptakan penderitaan.

Bagikan Berita:
  • Penulis: REDAKSI

Rekomendasi Untuk Anda

  • JCH Diimbau Tidak Memberi Uang Tip ke Sopir Bus Selama di Tanah Suci: Layanan Sudah Gratis

    JCH Diimbau Tidak Memberi Uang Tip ke Sopir Bus Selama di Tanah Suci: Layanan Sudah Gratis

    • calendar_month Rabu, 14 Mei 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 551
    • 0Komentar

    SAUDI — Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kembali mengingatkan bahwa seluruh layanan bus –yang disebut sebagai Bus Shalawat, disediakan secara gratis oleh pemerintah. Layanan bus tersebut disebutkan beroperasi 24 jam sehari, mengantar dan menjemput jemaah dari hotel ke Masjidil Haram tanpa biaya tambahan, karena seluruh biayanya sudah termasuk dalam Biaya Penyelenggaraan […]

    Bagikan Berita:
  • Ini Hotel-Hotel Menjulang di Mekkah, yang Terdekat dan Bisa untuk Melihat Kabah dari Ketinggian

    Ini Hotel-Hotel Menjulang di Mekkah, yang Terdekat dan Bisa untuk Melihat Kabah dari Ketinggian

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 546
    • 0Komentar

    MAKASSAR – Salah satu dambaan jemaah umrah saat berada di Tanah Suci adalah, bisa menginap tak jauh dari Kabah. Paling beruntung, jika bisa melihat kabah dari penginapan atau hotel. Untuk mewujudkan dambaan yang terakhir di atas, pilihannya tentu menginap hotel-hotel yang bukan cuma dekat dari Kabah, tapi juga bangunannya menjulang, memungkinkan jemaah melihat Kabah dari […]

    Bagikan Berita:
  • 52 Calon Jemaah Umrah di Makassar Gagal Berangkat, Kemenag Teruskan ke Polisi

    52 Calon Jemaah Umrah di Makassar Gagal Berangkat, Kemenag Teruskan ke Polisi

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 532
    • 0Komentar

    MAKASSAR – Sebanyak 52 calon jamaah umrah gagal berangkat, melapor ke Kantor Kementerian Agama Sulsel Kecamatan Mariso, Makassar, pada Minggu 4 Agustus 2025. Jamaah umrah PT Travel Mecca Anugerah Travelindo mengaku sudah menyetor dana belasan hingga puluhan juta rupiah. Tidak ada bukti tiket pesawat dan bukti booking hotel yang biasanya jadi komitmen pemberangkatan. Mereka mendaftar […]

    Bagikan Berita:
  • Sudah Separuh Calon Jemaah Haji 2026 Lunasi BIPIH, Jelang Penutupan Tahap 1

    Sudah Separuh Calon Jemaah Haji 2026 Lunasi BIPIH, Jelang Penutupan Tahap 1

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 456
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Menjelang penutupan pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) tahap pertama pada 23 Desember 2025, pelunasan Bipih jemaah haji reguler telah mencapai 108.309 orang atau sekitar 53,73 persen dari total kuota 201.585 jemaah. Di sisi lain, jumlah calon jemaah yang telah memenuhi syarat istitaah tercatat sebanyak 133.566 orang. Sementara untuk jemaah haji khusus, angka […]

    Bagikan Berita:
  • Hoaks Pesawat Angkut 210 Jemaah Haji Mauritania Jatuh di Pantai Merah, Pemerintah Mauritania Klarifikasi

    Hoaks Pesawat Angkut 210 Jemaah Haji Mauritania Jatuh di Pantai Merah, Pemerintah Mauritania Klarifikasi

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 646
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah Mauraitania angkat bicara terkait ramainya kabar pesawat yang mengangku jemaah haji di negaranya kecelakaan dan jatuh di lepas pantai Laut Merah. Isu yang beredar tentang jatuhnya pesawat yang ditumpangi jemaah dari Mauritania itu salah, menurut pemerintah. Direktur Haji Mauritania di Kementerian Urusan Islam, El Waly Taha, membantah klaim tersebut, dan menegaskan bahwa […]

    Bagikan Berita:
  • Remaja 16 Tahun dari Sidrap Jadi CJH yang Termuda Kloter 2 Embarkasi Makassar

    Remaja 16 Tahun dari Sidrap Jadi CJH yang Termuda Kloter 2 Embarkasi Makassar

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 261
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Remaja perempuan usia 16 tahun asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, menjadi calon jemaah haji (CJH) termuda di kloter 2 Embarkasi Makassar. Remaja bernama Keysia Arnita Putri itu, menggantikan ibunya yang meninggal dunia pada 2023 lalu. Kehadiran Keysia menyita perhatian saat tiba di Asrama Haji Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Selasa 21 April 2026 bersama ratusan […]

    Bagikan Berita:
expand_less