Maskapai Saudi Batalkan Sejumlah Penerbangan Akibat Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 10

Saudia Airlines
HAMRANEWS – Maskapai nasional Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines (Saudia), mengonfirmasi pembatalan sementara sejumlah penerbangan menyusul perkembangan situasi keamanan di kawasan serta penutupan wilayah udara di beberapa negara, pada Sabtu 28 Februari 2026.
Dalam pernyataannya, Saudia menegaskan bahwa pembatalan dilakukan sesuai standar keselamatan dan keamanan penerbangan.
Maskapai juga menyebutkan bahwa Emergency Coordination Center terus memantau perkembangan situasi dengan berkoordinasi bersama otoritas terkait.
Saudia mengimbau para penumpang untuk memeriksa status penerbangan masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Informasi terbaru, kata maskapai, akan disampaikan melalui saluran resmi yang terhubung dengan data pemesanan penumpang.
Imbauan serupa disampaikan secara terpisah oleh maskapai berbiaya rendah flynas dan flyadeel. Keduanya meminta calon penumpang memastikan status penerbangan melalui kanal resmi sebelum menuju bandara, seiring terganggunya lalu lintas udara akibat penutupan wilayah udara di sejumlah destinasi.
Pada Sabtu, Saudi Airlines juga mengumumkan pembatalan sementara beberapa penerbangan yang dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, dengan alasan utama menjaga standar keselamatan dan keamanan.
Sementara itu, situs pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan bahwa Muscat, ibu kota Oman, sempat menutup operasional bandara secara sementara.
Perkembangan ini terjadi di tengah langkah sejumlah negara kawasan yang memberlakukan pembatasan wilayah udara sebagai tindakan pencegahan, di antaranya Uni Emirat Arab, Suriah, Kuwait, Qatar, dan Irak, menyusul eskalasi konflik Iran–Israel.
Israel sebelumnya melancarkan apa yang disebut sebagai serangan “pendahuluan” terhadap Iran pada Sabtu dini hari dengan sandi operasi Lion’s Roar, disertai penetapan status darurat “khusus dan segera” di seluruh wilayah negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menyatakan bahwa pasukannya melancarkan “operasi tempur besar” di Iran yang bertujuan “melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang dianggap segera dari rezim Iran”.
Serangan ini terjadi di tengah proses perundingan antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran, yang dimediasi oleh Oman. Putaran terbaru perundingan di Jenewa diketahui berakhir pada Kamis lalu.
Sebagai latar belakang, pada Juni tahun lalu Amerika Serikat dilaporkan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran dalam konflik Israel–Iran yang berlangsung selama 12 hari.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



