Maskapai Saudi Sudah Kuasai 80 Persen Pasar Umrah RI, Emirates Terus Tambah Porsi
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month Ming, 15 Feb 2026
- visibility 18

Saudia Airlines
HAMRANEWS – Pasar penerbangan umrah Indonesia menjadi incaran maskapai internasional. Maskapai asal Saudi bahkan diketahui mengangkut jauh lebih banyak jemaah asal Indonesia dibanding maskapai asal Indonesia sendiri, seperti Garuda.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyebut minat maskapai global untuk mengangkut penumpang umrah dari Indonesia terus meningkat.
“Begitu banyak penumpang umrah dan begitu banyak airline yang ingin mengangkut umrah,” ujar Lukman dalam peluncuran Indonesia Aviation Association di Hotel Mulia, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Maskapai Saudi Angkut 80 Persen Penumpang Umrah Indonesia
Lukman mengungkapkan, maskapai asal Arab Saudi saat ini mendominasi penerbangan umrah Indonesia dengan mengangkut hingga 80% penumpang.
“Selain itu, maskapai lain seperti Emirates juga mengambil porsi besar, terutama dengan memanfaatkan penerbangan tidak langsung melalui hub regional seperti Bali,” ia menambahkan.
Menurutnya, besarnya pasar ini membuat banyak maskapai berlomba memperluas jaringan penerbangan umrah dari Indonesia.
Lukman juga menyoroti adanya perbedaan angka antara laporan maskapai dan data pemerintah terkait jumlah penumpang umrah.
Berdasarkan data Kementerian Agama, jumlah penumpang umrah disebut bahkan lebih tinggi dibanding yang disampaikan pihak maskapai.
“Ini Saudi saja, 75%. Umrah ke Saudi,” ujarnya.
Ia menyebut maskapai mengklaim hanya mengangkut sekitar 55% penumpang umrah, sementara data pemerintah menunjukkan angkanya mencapai 75% khusus tujuan Arab Saudi.
Pemerintah Tegas Soal Izin Maskapai Asing
Meski pasar umrah sangat besar, Lukman menegaskan pemerintah tidak serta-merta membuka izin penerbangan tambahan bagi maskapai asing.
Salah satu contohnya adalah permintaan Emirates untuk terbang ke Jakarta menggunakan Airbus A380 yang belum disetujui.
“Saya minta tiga hal: bagaimana MRO-nya (Maintenance, Repair, and Overhaul) di Indonesia, bagaimana menggunakan kru orang Indonesia, dan bagaimana kotanya nambah. Kalau tiga ini tidak dipenuhi, saya tidak keluarkan izin,” ujarnya.
Lukman menyebut beberapa maskapai asing dinilai lebih kooperatif karena melibatkan tenaga kerja Indonesia dalam operasional mereka.
Qatar, misalnya, disebut memiliki sekitar 90 pilot Indonesia, sementara Etihad sekitar 40 pilot.
Sebaliknya, Emirates dinilai masih minim kontribusi karena hanya memiliki enam pilot Indonesia dan menawarkan satu kru Indonesia dalam operasionalnya.
“Airbus A380 itu besar. Kalau cuma satu kru Indonesia, ini bisa jadi masalah, apalagi penumpang umrah kita jumlahnya besar dan sebagian lansia,” kata Lukman.
Ia mencontohkan kendala komunikasi yang kerap terjadi antara kru asing dan penumpang umrah lanjut usia, mulai dari persoalan bahasa hingga pelayanan di dalam kabin.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



