Pentingnya Memahami Hakikat Salat Sebelum ke Tanah Suci: Kunci Kekhusyukan Ibadah
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

HAMRANEWS.ID — Calon jemaah umrah dan haji diimbau untuk tidak sekadar menghafal gerakan fisik salat. Calon jemaah harus memahami syarat, rukun, hingga hikmah batiniahnya sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Hal ini disampaikan Ustaz yang juga Direktur Sekolah Haji Tazkiyah, Dr. K.H. Abdul Wahid Haddade, Lc., M.Hi., dalam pembekalan materi Sekolah Haji Tazkiyah, 22 Oktober 2026 lalu.
Menurut Abdul Wahid Haddade, memahami “roh” dan ilmu salat dari rumah merupakan bekal krusial bagi calon jemaah. Pasalnya, saat berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jemaah akan melaksanakan ibadah salat dalam frekuensi yang jauh lebih banyak.
Tanpa pemahaman mendalam, salat berisiko menjadi sekadar rutinitas fisik tanpa memberikan dampak spiritual untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar.
“Salat merupakan kewajiban yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW pada peristiwa Isra dan Mikraj, sehingga salat menjadi mikraj-nya orang-orang mukmin. Namun, salat bukan sekadar gerakan mengucapkan takbir, rukuk, sujud, hingga salam, melainkan memiliki dimensi hikmah yang sangat mendalam,” ungkap Ustaz Abdul Wahid.
Dalam pemaparannya, Ustaz Abdul Wahid merincikan makna batiniah di balik setiap gerakan salat yang perlu dihayati jemaah:
Takbiratul Ihram (Allahu Akbar):
Mengagungkan Allah SWT sebagai yang Maha Besar dan mengecilkan seluruh urusan duniawi, seperti jabatan, pangkat, maupun materi. Kalimat ini juga menuntut jemaah untuk berakhlak dengan sifat Allah yang Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) kepada seluruh manusia.
Mengangkat Tangan: Menjadi simbol penyerahan diri secara penuh (tawakal) kepada Allah SWT, yang senantiasa berjalan berdampingan dengan ikhtiar nyata.
Berdiri Tegak: Merupakan bentuk kesyukuran atas nikmat kesehatan dan fisik yang fit, mengingat berdiri adalah penanda utama kondisi tubuh yang sehat.
Rukuk: Menjadi bentuk penghormatan awal dan pengagungan hamba kepada Sang Pencipta.
Iktidal: Komitmen untuk memohon petunjuk di jalan yang lurus (ihdinas siratal mustaqim) di tengah persimpangan antara jalan kemalaikatan dan jalan kesetanan.
Sujud: Puncak dan inti dari ibadah salat. Dengan menyejajarkan posisi kepala—anggota tubuh paling mulia—dengan kaki di atas tanah, sujud berfungsi mengikis sifat sombong, angkuh, dan perasaan lebih baik dari orang lain (ana khairun minhu).
Salam: Menutup salat dengan menebar kedamaian (peace) ke kanan dan ke kiri. Gerakan ini menegaskan keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah (hablun minallah) dan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablun minannas).
Ia berharap dengan bekal pemahaman esoterik ini, jemaah dapat meresapi setiap gerakan salat sehingga ibadah yang dijalankan di Makkah dan Madinah tidak hanya berlipat secara kuantitas, tetapi juga mencapai kualitas kekhusyukan yang sempurna.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli
