Ramai Wakaf Alquran di Tanah Suci, Ustaz Nur Syahid Ingatkan Masyarakat Pelosok Lebih Banyak yang Butuh
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month Sen, 16 Feb 2026
- visibility 89

HAMRANEWS – Polemik wakaf mushaf Alquran Taqy Malik yang dinilai ada aroma mark up, turut mendapat tanggapan dari Andi Muhammad Nur Syahid, pendiri Sekolah dan Pesantren Kurir Langit.
Dalam pernyataannya, ia mengajak umat Islam untuk tidak larut dalam hiruk-pikuk perdebatan, melainkan menjadikan momentum tersebut sebagai sarana meningkatkan literasi dan kecerdasan dalam berwakaf.
“Lagi ramai soal wakaf Alquran di Mekah dan Madinah, viral, jadi polemik di mana-mana. Padahal sudah dekat Ramadan,” ujar Ustaz Nur Syahid membuka pesannya lewat media sosial. Ia menekankan pentingnya menjaga suasana hati dan fokus pada hal-hal yang lebih substansial, terutama menjelang bulan suci.
Menurutnya, peristiwa ini seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin memahami makna wakaf secara utuh. Wakaf, kata dia, bukan sekadar aktivitas seremonial atau simbolik, melainkan tonggak sejarah sekaligus fondasi masa depan peradaban Islam.
“Wakaf adalah kekuatan untuk memastikan dakwah dan perjuangan agama ini bisa berjalan panjang lintas generasi,” tuturnya.
Ustaz Nur Syahid juga menyampaikan pengalamannya selama bolak-balik ke Tanah Suci. Ia mengaku tidak pernah secara khusus mengajak jamaah untuk wakaf Alquran di sana. Ajakan yang paling sering ia sampaikan justru sebatas berbagi makanan bagi para musafir sebagai bentuk memuliakan tamu-tamu Allah.
Wakaf Mushaf di Arab Saudi Bukan Prioritas, Banyak yang Lebih Membutuhkan
Namun demikian, ia menegaskan bahwa persoalannya bukan membandingkan jenis sedekah atau wakaf, melainkan soal prioritas. Umat Islam, menurutnya, perlu bertanya secara jujur: siapa yang lebih membutuhkan wakaf Alquran?
“Lebih butuh mana, jamaah haji dan umrah di Saudi atau saudara-saudara kita di pelosok?” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dakwah Alquran tidak berhenti pada membagikan mushaf kepada musafir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Alquran diajarkan, dikenalkan, dan dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari—di rumah tangga, keluarga, hingga pendidikan anak-anak—agar lahir generasi Qurani di masa depan.
“Itu PR kita bersama, PR jangka panjang,” katanya.
Dalam pesannya, Ustaz Nur Syahid secara khusus mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali arah wakaf Alquran. Ia menyebut Aceh sebagai salah satu wilayah yang sangat membutuhkan mushaf Alquran. Banyak meunasah dan dayah di daerah tersebut, katanya, yang kondisi Qurannya sudah rusak dan tidak layak pakai.
“Saya mau mengajak kita berwakaf Quran untuk Aceh. Tapi yang lebih penting dari ajakan itu adalah kita semakin cerdas dalam berwakaf,” ucapnya.
Ia menutup dengan penegasan bahwa wakaf bukan semata soal mushaf Alquran sebagai benda, melainkan bagaimana wakaf tersebut berkontribusi dalam menegakkan peradaban Alquran bagi masa depan umat dan generasi selanjutnya.
“Kalau kita tepat menentukan prioritas—di mana kita salurkan, di mana kita gerakkan—insya Allah wakaf kita lebih bermanfaat dan benar-benar menjadi amal jariah,” pungkasnya.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



