Klarifikasi Owner Travel yang Viral 44 Jemaahnya Telantar di Hotel Makkah
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 5

Illustrasi jemaah umrah terlantar
HAMRANEWS – Pemilik Mitra Travel, yang sebelumnya dikabarkan diduga menelantarkan 44 jemaahnya (mayoritas dari Parepare dan Makassar) di Makkah, Arab Saudi, menyampaikan klarifikasi.
Pihak travel membantah puluhan jemaah itu telantar, namun jadwal pemulangan molor karena pihak maskapai membatalkan penerbangan imbas perang.
“Ini qadarullah, ada krisis internasional dan perang saat kami sudah di Makkah. Harga tiket sekarang meroket dan kursi sangat terbatas. Kalaupun ada uang, belum tentu ada kursi,” kata Mitra Travel, Risma kepada detikSulsel, Minggu 5 April 2026 dikutip dari detikdotcom.
Dia mengakui jadwal kepulangan para jemaah itu molor selama dua pekan. Namun dia membantah puluhan jemaah itu telantar karena sampai saat ini para jemaah ditampung di hotel agar tetap beribadah dengan tenang.
“Jemaah masih saya simpan di hotel di Makkah, bukan di Jeddah. Saya ingin mereka tenang beribadah, bisa umrah Syawal sambil menunggu tiket. Kalau saya masa bodoh, pasti sudah saya lepas. Tapi ini saya pakai hati kemanusiaan meski keuangan saya sangat terbatas,” bebernya.
Risma pun menjelaskan terkait keputusannya mengambil alih program Umrah Full Ramadan dan memberangkatkan 44 jemaah tersebut. Dia menuturkan persoalan jemaah ini muncul dari sengketa keuangan di pihak travel pertama, yakni Brinis Ibad Jaya (BIJ).
“Saya berani mengambil alih Full Ramadan ini karena ada janji uang senilai Rp 480 juta. Tapi begitu saya cek untuk kepulangan jemaah, katanya uang tersebut sudah dihanguskan oleh pihak travel awal,” terang Risma.
Dia menegaskan, kepulangannya ke tanah air lebih awal untuk mengejar kejelasan uang jemaah yang telah dilunasi ke pihak BIJ. Namun dia mendapat kabar bahwa uang muka di travel awal telah habis.
“Saya mau urus uang itu. Saya kaget ternyata sudah dihanguskan, padahal itu hak jemaah yang sudah lunas di awal. Saya tidak kenal siapa owner-nya (BIJ). Saya hanya beli akses Siskopatuh (travel lainnya) agar jemaah bisa berangkat resmi sesuai aturan Kemenag,” jelasnya.
Risma mengungkapkan, membeli tiket baru bukan perkara mudah. Selain ketersediaan kursi yang sangat terbatas, harganya pun melonjak hingga berkali-kali lipat dari harga normal.
“Harga tiket sekarang meroket. Kalaupun ada uang, belum tentu ada kursi. Keuangan saya terbatas karena uang Rp 480 juta itu belum saya terima,” katanya.
“Seandainya uang itu ada, biar harga tiket Rp 20 juta pun saya beli demi memulangkan jemaah, daripada saya harus bayar hotel terus setiap hari di sana,” tambahnya.
Terkait isu jemaah hanya dibekali tiket berangkat tanpa tiket pulang, Risma membantah. Menurutnya, secara regulasi, mustahil seorang jemaah bisa mengantongi visa umrah dan lolos dari imigrasi jika tidak memiliki bukti tiket kepulangan.
“Tidak mungkin visa keluar kalau tidak ada tiket pulang. Kalau tidak ada, pasti sudah ditahan di imigrasi sejak awal. Saya punya buktinya, tiket kepulangan itu ada,” katanya.
Saat ini, Risma mengaku hanya bisa menunggu kepulangan mitra lainnya, Haji Bashira, untuk bersama-sama menyelesaikan sengkarut dana di travel awal. Sehingga 44 jemaah tersebut bisa segera kembali ke pelukan keluarga.
“Saya hanya menunggu Haji Bashira pulang. Saya tidak punya wewenang langsung ke travel (BIJ) itu karena yang bekerja sama adalah beliau. Saya hanya berharap ada solusi agar jemaah bisa segera pulang ke tanah air,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, 44 jemaah umrah tersebut telantar di Makkah, Arab Saudi, akibat dugaan penipuan oleh pihak travel. Puluhan jemaah tersebut hingga kini terkatung-katung tanpa kepastian tiket pulang dan terancam diusir dari penginapan.
“Hotel selalu menagih kami dan tadi malam masih terjadi penyitaan kunci kamar karena belum dibayar oleh pihak travel Haji Risma,” ujar salah satu jemaah, Haji Aminah, saat dihubungi Kemenhaj Parepare, Kamis (2/4).
Aminah menjelaskan, rombongannya yang menunaikan umrah itu berasal dari Parepare dan Makassar. Dirinya bersama 10 orang merupakan warga Makassar dan lainnya itu dari Parepare.
“Saya orang Makassar, cuma gabung dengan orang Parepare. Saya sepuluh orang dari Makassar,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, kondisi mental para jemaah kini sangat terguncang. Pasalnya mereka merasa terancam dan tidak memiliki perlindungan di tanah suci.
“Tidak pernah ada kepastian sama sekali dari pihak kementerian, kami bingung mau sampai kapan berada dalam kondisi begini kodong (kasihan) seperti ini,” keluh Aminah.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



