Baso Tang, Imam Tunanetra Asal Pulau Kecil di Sinjai yang Namanya Diabadikan Jadi Masjid di Arab Saudi
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1

HAMRANEWS – Di tengah jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, kisah seorang pria tunanetra asal pulau kecil di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mencuri perhatian rombongan kerajaan Arab Saudi. Bukan karena kekayaan, jabatan, ataupun popularitas, melainkan karena keteguhan pengabdiannya sebagai imam masjid selama puluhan tahun dalam keterbatasan.
Saifuddin H M Abd Muin Saideng, yang akrab disapa Baso Tang, tak pernah membayangkan perjalanan hajinya tahun ini akan menjadi pengalaman paling mengharukan dalam hidupnya. Di Tanah Suci, namanya disebut akan diabadikan menjadi nama sebuah masjid wakaf di Arab Saudi, sebuah penghormatan yang sangat jarang diberikan kepada jemaah biasa.
“Saya selalu menangis kalau ingat itu,” ujar pria berusia 56 tahun tersebut dengan suara bergetar di lobi hotel jemaah Indonesia kawasan Jarwal, Makkah, seperti dilansir Media Center Haji (MCH), Minggu (24/5/2026).
Tangis haru Baso Tang pecah saat mengetahui pemerintah Arab Saudi berencana membangun masjid atas namanya sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya sebagai imam tunanetra. Kisah ini bukan hanya menyentuh hati jemaah Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ketulusan pengabdian tetap mendapat tempat istimewa di hati umat Islam.
Pertemuan Tak Terduga di Lobi Hotel
Baso Tang datang ke Tanah Suci sebagai jemaah reguler Kloter UPG 17 bersama saudara kandung dan iparnya. Namun, takdir seolah menyiapkan kejutan besar setelah salat Isya di hotel tempat jemaah Indonesia menginap.
Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIH) Kloter UPG 17, Faried Wajdi, menceritakan bahwa malam itu sejumlah pria Arab terlihat menunggu penerjemah di lobi hotel. Mereka memperkenalkan diri sebagai bagian dari unsur kerajaan Arab Saudi yang mencari jemaah tertua laki-laki dan perempuan untuk diberikan penghormatan dan hadiah penyambutan.
Situasi berubah ketika Faried memperkenalkan Baso Tang kepada rombongan tersebut.
“Saya bilang, beliau jemaah kami, tunanetra dan imam masjid,” kata Faried.
Keterangan itu sontak menarik perhatian mereka. Baso Tang kemudian diminta membaca Alquran di hadapan para jemaah yang mulai berkumpul di lobi hotel. Dengan suara pelan dan tenang, ia melantunkan Surah Al-Ashr.
“Saya baca surah pendek saja karena sudah banyak orang berkumpul. Takut lama,” tutur Baso Tang.
Menurut Faried, rombongan Arab tampak tersentuh setelah mengetahui Baso Tang tetap menjadi imam masjid selama puluhan tahun meski kehilangan penglihatannya secara total. Tak lama berselang, mereka menyampaikan niat membangun sebuah masjid wakaf atas nama Saifuddin.
Awalnya Faried mengira rombongan tersebut meminta donasi dari jemaah Indonesia. Namun penjelasan berikutnya justru membuat semua yang hadir terdiam haru.
“Mereka bilang, uangnya dari pemerintah Arab Saudi, sementara masjidnya atas nama beliau,” ungkap Faried.
Masjid tersebut direncanakan dibangun di Arab Saudi, dengan kemungkinan lokasi di Madinah. Pihak kerajaan disebut akan kembali menemui rombongan sebelum kepulangan jemaah Indonesia.
Pengabdian Sunyi Selama Empat Dekade
Bagi warga Pulau Kambuno, Kecamatan Pulau Sembilan, Sinjai, Baso Tang bukan sosok asing. Sejak 1985, saat usianya baru sekitar 16 tahun, ia dipercaya menjadi imam tetap Masjid Baburrahman. Amanah itu dijalankannya tanpa henti selama 41 tahun.
“Menjadi imam ini amanah dari orang tua,” katanya.
Baso Tang sebenarnya lahir dengan penglihatan normal. Namun menjelang masuk SMP pada 1981, matanya mulai mengalami gangguan. Dari sekadar bengkak dan gatal, penglihatannya perlahan mengabur hingga akhirnya hilang total pada 1997.
Meski demikian, kehilangan penglihatan tidak pernah menghentikan langkah pengabdiannya.
“Tidak. Sama sekali tidak. Saya pasrah saja. Mungkin sudah takdir,” ujarnya saat ditanya apakah pernah marah karena kehilangan penglihatan.
Setiap hari, ia tetap berjalan sendiri menuju masjid tanpa tongkat. Rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari masjid, dan ia menghafal jalan dengan meraba pagar sepanjang lorong.
Dalam keterbatasan, Baso Tang justru semakin dekat dengan Alquran. Ia menghafal juz amma dan sejumlah surah dengan mendengarkan kaset murattal dari tape recorder tua, mengulang ayat demi ayat hingga melekat di ingatan.
Kini, hafalannya membuat banyak jemaah kagum. Bahkan selama di Makkah, ia kembali dipercaya menjadi imam salat bagi rombongan jemaah Sinjai di hotel tempatnya menginap.
Di kampung halaman, Baso Tang hidup sederhana dari warung kecil yang menjual gas elpiji, bensin eceran, beras, dan kebutuhan harian warga. Honor sebagai imam masjid hanya sekitar Rp200 ribu per bulan. Biaya hajinya ia kumpulkan perlahan melalui hasil berdagang dan arisan selama enam tahun.
Kini, lelaki sederhana dari pulau kecil di Sinjai itu mungkin tak lagi mampu melihat dunia dengan matanya. Namun dunia justru sedang memandangnya dengan penuh hormat. Di tengah zaman yang sering mengukur kehormatan dari popularitas dan materi, kisah Baso Tang menjadi pengingat bahwa ketulusan pengabdian masih memiliki tempat paling mulia di hati umat Islam.
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli



