Berita Terkini
light_mode
Trending Tags
Beranda » Haji » Ulasan Menu Makan Haji 2026 Ala Jemaah: Tak Ada Sambal Terasi, Dagingnya Alot Tapi Selalu Tepat Waktu

Ulasan Menu Makan Haji 2026 Ala Jemaah: Tak Ada Sambal Terasi, Dagingnya Alot Tapi Selalu Tepat Waktu

  • account_circle Muhammad Fadli
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 4
  • print Cetak

HAMRANEWS.ID — Pengalaman menjalani ibadah haji 2026 memberikan banyak catatan bagi Muhammad Saefullah, Anggota Komisi Infokomdigi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Salah satunya terkait layanan konsumsi yang diterima jemaah selama berada di Arab Saudi.

Saefullah menceritakan, selama berada di Makkah, jemaah mendapatkan makanan tiga kali sehari yang dikemas dalam kotak aluminium. Jatah tersebut terdiri atas makan pagi, siang, dan malam.

“Kalau kami di kampung-kampung menyebutnya seperti MBG, Makanan Bergizi Gratis, versi Kementerian Haji dan Umrah,” kata Saefullah mengenang pengalamannya.

Tercatat, ada 127 kali jatah makan yang disiapkan selama jemaah berada di Arab Saudi. Rinciannya, 27 kali di Madinah, 84 kali di Makkah, serta 15 kali ditambah paket kudapan berat saat puncak Armuzna.

Dari sisi distribusi, Saefullah menilai pelayanan cukup baik. Makanan datang tepat waktu, bahkan terkadang cukup cepat. Setelah salat Subuh, sarapan sudah tersedia. Sekitar pukul 10.00, jatah makan siang mulai dibagikan, sementara makanan malam telah diterima jemaah sebelum Magrib.

Namun, persoalan menurutnya justru terdapat pada cita rasa dan tekstur sejumlah makanan, khususnya selama berada di Makkah.

“Kalau soal ketepatan waktu distribusi, saya kira patut diapresiasi. Tetapi soal rasa, di Makkah saya merasakan lauknya cenderung hambar dan kurang variasi,” ujarnya.

Saefullah juga menyoroti tekstur daging yang dinilainya cukup keras. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi persoalan tersendiri bagi jemaah lanjut usia yang mengalami keterbatasan dalam mengunyah.

Ia mencontohkan pengalaman seorang jemaah bernama Mbah Datoem, 84 tahun, asal Desa Ciberung, Ajibarang, Banyumas. Saat mendapatkan menu daging sapi, jemaah sepuh tersebut kesulitan mengunyahnya.

“Jan… iki daging alot, diuntal malah marahi keselek,” kata Mbah Datoem yang berarti daging tersebut terlalu keras dan berisiko membuat tersedak.

Menurut Saefullah, pengalaman tersebut menjadi perhatian karena sejak sebelum keberangkatan, jumlah jemaah lansia telah didata. Ia berharap kondisi tersebut diikuti dengan penyediaan makanan yang lebih sesuai bagi jemaah lanjut usia.

“Jemaah lansia seharusnya mendapat perhatian khusus, termasuk dari sisi tekstur makanan. Makanan yang empuk dan mudah dicerna bukan kemewahan, tetapi bagian dari pelayanan dasar,” katanya.

Untuk menyiasati menu yang dianggap kurang sesuai dengan selera, Saefullah bersama sejumlah jemaah menggunakan bumbu mi instan dan sambal terasi yang dibawa dari Indonesia.

Bagi jemaah yang terbiasa dengan makanan bercita rasa kuat, sambal terasi menjadi salah satu cara mengobati kerinduan terhadap masakan kampung halaman.

Ketika rasa rindu terhadap masakan Indonesia semakin kuat, Saefullah dan jemaah lainnya bahkan sesekali memasak sederhana di kamar. Mereka membeli bayam, wortel, tomat, dan cabai di sekitar kawasan Misfalah, kemudian memasaknya dengan bumbu yang dibawa dari Tanah Air.

Pilihan lainnya adalah membeli makanan di sekitar kawasan Masjidil Haram. Namun, menurut Saefullah, harga makanan Indonesia relatif mahal. Ia mencontohkan semangkuk bakso yang bisa mencapai 30 riyal Saudi atau sekitar Rp150 ribu, sedangkan ayam penyet sekitar 50 riyal atau Rp250 ribu.

Setelah rangkaian puncak haji selesai, Saefullah dan rombongan juga sempat mengikuti perjalanan ke sejumlah tempat bersejarah, seperti Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Thaif.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan satu kloter yang berjumlah sekitar 75 orang singgah di sebuah restoran Arab. Mereka menikmati nasi kebuli dengan potongan daging ayam dan kambing yang empuk.

“Makannya bersama-sama mengelilingi nampan. Bagi saya, suasananya mengingatkan pada tradisi mayoran di pesantren. Jadi bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebersamaan,” ujarnya.

Berbeda dengan Madinah

Saefullah mengatakan pengalaman kuliner di Madinah terasa berbeda dibandingkan Makkah. Menurut dia, makanan katering di Madinah terasa lebih berbumbu dan sesuai dengan selera jemaah Indonesia.

Selain katering, keberadaan restoran Indonesia di sekitar Masjid Nabawi juga menjadi pilihan bagi jemaah yang ingin menikmati makanan khas Nusantara.

“Di Madinah saya merasakan makanan lebih beraroma dan lebih cocok dengan lidah orang Indonesia,” katanya.

Ia menyebut sejumlah kuliner Indonesia mudah ditemukan, mulai dari masakan Sunda hingga makanan khas daerah lainnya.

Salah satu tempat yang ia datangi menyajikan bakwan, soto, hingga ayam bakar yang menurutnya memiliki cita rasa yang dekat dengan masakan Indonesia.

Kritik Tetap Disampaikan dengan Santun

Dari pengalaman tersebut, Saefullah menilai evaluasi terhadap layanan konsumsi jemaah haji tetap penting dilakukan secara objektif.

Ia mengapresiasi sejumlah aspek yang sudah berjalan baik, terutama ketepatan distribusi makanan. Namun, menurutnya, masih ada ruang perbaikan, khususnya terkait variasi menu, cita rasa, serta penyediaan makanan yang ramah bagi jemaah lansia.

“Kalau kita mengkritik, tentu harus santun tetapi tetap bernas. Karena merawat lansia itu juga bagian dari merawat kemanusiaan,” ujarnya.

Meski menemukan sejumlah kekurangan, Saefullah mengatakan pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran penting tentang keikhlasan dalam menjalankan ibadah.

Ia teringat percakapannya dengan Mbah Datoem setelah jemaah sepuh itu menyelesaikan makanannya yang telah ditambahkan bumbu mi instan dan sambal terasi.

“Sing penting wareg ganti tenaga, Mas. Gusti Allah ora mandang opo sing mlebu maring weteng, tapi opo sing metu saka ati,” ujar Mbah Datoem.

Kalimat tersebut, menurut Saefullah, menjadi salah satu pelajaran yang paling membekas selama menjalani ibadah haji.

“Bagi saya, pengalaman itu mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik dan ritual. Ada keikhlasan, kesabaran, kebersamaan, dan bagaimana kita tetap menjaga hati dalam berbagai keadaan,” kata Saefullah.

Bagikan Berita:
  • Penulis: Muhammad Fadli
  • Editor: Fitriani Heli

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jemaah Ungkap Pengalaman Umrah Bersama Pazz Travel: On Schedule, Hotel Di-upgrade

    Jemaah Ungkap Pengalaman Umrah Bersama Pazz Travel: On Schedule, Hotel Di-upgrade

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 24
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Pengalaman positif dibagikan Andi Wilda Alwan Pabokori, salah satu jemaah umrah Pazz Travel by Tazkiyah Group yang berangkat pada 9 Juli 2026 lalu. Andi Wilda yang menjadi pemenang favorit lomba video Tazkiyah Tour yang digelar pada 8 Agustus 2026 menceritakan pengalamannya sejak proses pendaftaran hingga kembali ke Tanah Air lewat konten media sosialnya. […]

    Bagikan Berita:
  • Pulang Dalam Kondisi Prima, Jemaah Haji Khusus Tazkiyah Tour Tiba di Tanah Air

    Pulang Dalam Kondisi Prima, Jemaah Haji Khusus Tazkiyah Tour Tiba di Tanah Air

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 114
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Jemaah haji khusus Tazkiyah Tour mulai kembali ke Indonesia setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Kabar gembiranya, tim kesehatan Tazkiyah yang menyertai para jemaah selama perjalanan Ibadah Haji, memastikan semua dalam kondisi prima. Ketua Tim Medis Haji Khusus Tazkiyah Tour, Dokter Rusli, menyampaikan bahwa rombongan meninggalkan hotel transit lalu melanjutkan […]

    Bagikan Berita:
  • Alasan UU Pengelolaan Haji Perlu Direvisi, BPKH Butuh Dana Cadangan untuk Memitigasi Risiko

    Alasan UU Pengelolaan Haji Perlu Direvisi, BPKH Butuh Dana Cadangan untuk Memitigasi Risiko

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 413
    • 0Komentar

    JAKARTA – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia (RI) kembali mengaskan perlunya merevisi Undang-undang Pengelolaan Dana Haji. Melalui akun resminya, BPKH RI menyampaikan tiga poin penting tujuan revisi tersebut. “BPKH mengusulkan revisi UU No. 34 Tahun 2014 agar pengelolaan dana haji semakin optimal, adaptif, dan mampu memberikan nilai manfaat lebih besar bagi jemaah dan […]

    Bagikan Berita:
  • Jemaah Haji Dilarang Live Streaming hingga Bawa Bendera di Masjid Nabawi

    Jemaah Haji Dilarang Live Streaming hingga Bawa Bendera di Masjid Nabawi

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 163
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Pemerintah Arab Saudi memperketat pengawasan pelaksanaan ibadah haji 2026 dengan menerapkan sejumlah larangan baru yang wajib dipatuhi seluruh jemaah di Tanah Suci. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga kekhusyukan ibadah, ketertiban, dan kenyamanan di kawasan suci, khususnya di Masjid Nabawi. Salah satu aturan yang paling disorot adalah larangan melakukan live streaming atau siaran langsung […]

    Bagikan Berita:
  • Terungkap, Masalah Keterlambatan PK Haji Khusus adalah Input Data BPJS Kesehatan

    Terungkap, Masalah Keterlambatan PK Haji Khusus adalah Input Data BPJS Kesehatan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 322
    • 0Komentar

    HAMRANEWS — Asbab keterlambatan Pengembalian Keuangan (PK) jemaah Haji Khusus diungkap pemerintah. Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) mengungkap bahwa hambatan utama selama ini bersumber dari proses verifikasi dan input data kepesertaan BPJS Kesehatan. Melalui unggahan di akun Instagram resminya pada Jumat (23/1/2026), Kemenhaj menjelaskan bahwa tahapan verifikasi BPJS Kesehatan menjadi titik krusial yang […]

    Bagikan Berita:
  • Warganya Lebih Pilih Haji Reguler, Pakistan Kekurangan 16 Ribu Jemaah untuk Kuota Haji Khusus

    Warganya Lebih Pilih Haji Reguler, Pakistan Kekurangan 16 Ribu Jemaah untuk Kuota Haji Khusus

    • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 375
    • 0Komentar

    PAKISTAN – Berbeda dengan Pemerintah Indonesia yang antrean haji khususnya bahkan sudah mencapai 5 hingga 7 tahun, Pakistan malah kekurangan jemaah untuk memenuhi kuota haji khusus. Menurut berita yang ditulis media Pakistan, negara itu masih mencatat kekosongan sekitar 16.000 kuota menjelang tenggat waktu pendaftaran pada 17 Oktober 2025. Pemerintah Pakistan pun mendesak calon jamaah haji […]

    Bagikan Berita:
expand_less