Berita Terkini
light_mode
Trending Tags
Beranda » Haji » Ulasan Menu Makan Haji 2026 Ala Jemaah: Tak Ada Sambal Terasi, Dagingnya Alot Tapi Selalu Tepat Waktu

Ulasan Menu Makan Haji 2026 Ala Jemaah: Tak Ada Sambal Terasi, Dagingnya Alot Tapi Selalu Tepat Waktu

  • account_circle Muhammad Fadli
  • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
  • visibility 76
  • print Cetak

HAMRANEWS.ID — Pengalaman menjalani ibadah haji 2026 memberikan banyak catatan bagi Muhammad Saefullah, Anggota Komisi Infokomdigi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Salah satunya terkait layanan konsumsi yang diterima jemaah selama berada di Arab Saudi.

Saefullah menceritakan, selama berada di Makkah, jemaah mendapatkan makanan tiga kali sehari yang dikemas dalam kotak aluminium. Jatah tersebut terdiri atas makan pagi, siang, dan malam.

“Kalau kami di kampung-kampung menyebutnya seperti MBG, Makanan Bergizi Gratis, versi Kementerian Haji dan Umrah,” kata Saefullah mengenang pengalamannya.

Tercatat, ada 127 kali jatah makan yang disiapkan selama jemaah berada di Arab Saudi. Rinciannya, 27 kali di Madinah, 84 kali di Makkah, serta 15 kali ditambah paket kudapan berat saat puncak Armuzna.

Dari sisi distribusi, Saefullah menilai pelayanan cukup baik. Makanan datang tepat waktu, bahkan terkadang cukup cepat. Setelah salat Subuh, sarapan sudah tersedia. Sekitar pukul 10.00, jatah makan siang mulai dibagikan, sementara makanan malam telah diterima jemaah sebelum Magrib.

Namun, persoalan menurutnya justru terdapat pada cita rasa dan tekstur sejumlah makanan, khususnya selama berada di Makkah.

“Kalau soal ketepatan waktu distribusi, saya kira patut diapresiasi. Tetapi soal rasa, di Makkah saya merasakan lauknya cenderung hambar dan kurang variasi,” ujarnya.

Saefullah juga menyoroti tekstur daging yang dinilainya cukup keras. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi persoalan tersendiri bagi jemaah lanjut usia yang mengalami keterbatasan dalam mengunyah.

Ia mencontohkan pengalaman seorang jemaah bernama Mbah Datoem, 84 tahun, asal Desa Ciberung, Ajibarang, Banyumas. Saat mendapatkan menu daging sapi, jemaah sepuh tersebut kesulitan mengunyahnya.

“Jan… iki daging alot, diuntal malah marahi keselek,” kata Mbah Datoem yang berarti daging tersebut terlalu keras dan berisiko membuat tersedak.

Menurut Saefullah, pengalaman tersebut menjadi perhatian karena sejak sebelum keberangkatan, jumlah jemaah lansia telah didata. Ia berharap kondisi tersebut diikuti dengan penyediaan makanan yang lebih sesuai bagi jemaah lanjut usia.

“Jemaah lansia seharusnya mendapat perhatian khusus, termasuk dari sisi tekstur makanan. Makanan yang empuk dan mudah dicerna bukan kemewahan, tetapi bagian dari pelayanan dasar,” katanya.

Untuk menyiasati menu yang dianggap kurang sesuai dengan selera, Saefullah bersama sejumlah jemaah menggunakan bumbu mi instan dan sambal terasi yang dibawa dari Indonesia.

Bagi jemaah yang terbiasa dengan makanan bercita rasa kuat, sambal terasi menjadi salah satu cara mengobati kerinduan terhadap masakan kampung halaman.

Ketika rasa rindu terhadap masakan Indonesia semakin kuat, Saefullah dan jemaah lainnya bahkan sesekali memasak sederhana di kamar. Mereka membeli bayam, wortel, tomat, dan cabai di sekitar kawasan Misfalah, kemudian memasaknya dengan bumbu yang dibawa dari Tanah Air.

Pilihan lainnya adalah membeli makanan di sekitar kawasan Masjidil Haram. Namun, menurut Saefullah, harga makanan Indonesia relatif mahal. Ia mencontohkan semangkuk bakso yang bisa mencapai 30 riyal Saudi atau sekitar Rp150 ribu, sedangkan ayam penyet sekitar 50 riyal atau Rp250 ribu.

Setelah rangkaian puncak haji selesai, Saefullah dan rombongan juga sempat mengikuti perjalanan ke sejumlah tempat bersejarah, seperti Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Thaif.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan satu kloter yang berjumlah sekitar 75 orang singgah di sebuah restoran Arab. Mereka menikmati nasi kebuli dengan potongan daging ayam dan kambing yang empuk.

“Makannya bersama-sama mengelilingi nampan. Bagi saya, suasananya mengingatkan pada tradisi mayoran di pesantren. Jadi bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebersamaan,” ujarnya.

Berbeda dengan Madinah

Saefullah mengatakan pengalaman kuliner di Madinah terasa berbeda dibandingkan Makkah. Menurut dia, makanan katering di Madinah terasa lebih berbumbu dan sesuai dengan selera jemaah Indonesia.

Selain katering, keberadaan restoran Indonesia di sekitar Masjid Nabawi juga menjadi pilihan bagi jemaah yang ingin menikmati makanan khas Nusantara.

“Di Madinah saya merasakan makanan lebih beraroma dan lebih cocok dengan lidah orang Indonesia,” katanya.

Ia menyebut sejumlah kuliner Indonesia mudah ditemukan, mulai dari masakan Sunda hingga makanan khas daerah lainnya.

Salah satu tempat yang ia datangi menyajikan bakwan, soto, hingga ayam bakar yang menurutnya memiliki cita rasa yang dekat dengan masakan Indonesia.

Kritik Tetap Disampaikan dengan Santun

Dari pengalaman tersebut, Saefullah menilai evaluasi terhadap layanan konsumsi jemaah haji tetap penting dilakukan secara objektif.

Ia mengapresiasi sejumlah aspek yang sudah berjalan baik, terutama ketepatan distribusi makanan. Namun, menurutnya, masih ada ruang perbaikan, khususnya terkait variasi menu, cita rasa, serta penyediaan makanan yang ramah bagi jemaah lansia.

“Kalau kita mengkritik, tentu harus santun tetapi tetap bernas. Karena merawat lansia itu juga bagian dari merawat kemanusiaan,” ujarnya.

Meski menemukan sejumlah kekurangan, Saefullah mengatakan pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran penting tentang keikhlasan dalam menjalankan ibadah.

Ia teringat percakapannya dengan Mbah Datoem setelah jemaah sepuh itu menyelesaikan makanannya yang telah ditambahkan bumbu mi instan dan sambal terasi.

“Sing penting wareg ganti tenaga, Mas. Gusti Allah ora mandang opo sing mlebu maring weteng, tapi opo sing metu saka ati,” ujar Mbah Datoem.

Kalimat tersebut, menurut Saefullah, menjadi salah satu pelajaran yang paling membekas selama menjalani ibadah haji.

“Bagi saya, pengalaman itu mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik dan ritual. Ada keikhlasan, kesabaran, kebersamaan, dan bagaimana kita tetap menjaga hati dalam berbagai keadaan,” kata Saefullah.

Bagikan Berita:
  • Penulis: Muhammad Fadli
  • Editor: Fitriani Heli

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tazkiyah Tour Buka Program Umrah 20 Hari Akhir Ramadan-Syawal 2026, Idul Fitri di Tanah Suci

    Tazkiyah Tour Buka Program Umrah 20 Hari Akhir Ramadan-Syawal 2026, Idul Fitri di Tanah Suci

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 441
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Perusahaan Biro Perjalanan Umrah dari Makassar, Tazkiyah Tour membuka Program Umrah Akhir Ramadan dan Syawal 2026 dengan durasi perjalanan hingga 20 hari. Program umrah tersebut diperuntukkan kepada jemaah yang ingin merasakan puncak keistimewaan ibadah di penghujung Ramadan sekaligus menyambut Syawal di Tanah Suci. Berdasarkan informasi dari akun resmi instagram Tazkiyah Tour, program umrah […]

    Bagikan Berita:
  • Tak Sepenuhnya Sesuai Tujuan, Ribuan Kursi Roda-Kursi Salat Hasil Wakaf Jemaah Haji Numpuk Tak Terpakai

    Tak Sepenuhnya Sesuai Tujuan, Ribuan Kursi Roda-Kursi Salat Hasil Wakaf Jemaah Haji Numpuk Tak Terpakai

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 154
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Mewakafkan kursi roda atau kursi salat di Masjidil Haram selama ini menjadi salah satu bentuk amal yang cukup populer di kalangan jamaah haji dan umrah. Banyak yang berharap fasilitas tersebut dapat digunakan oleh para tamu Allah dalam jangka waktu lama sehingga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Namun, sebuah fakta di lapangan […]

    Bagikan Berita:
  • Tutup Rapat-rapat Harapan Naik Haji lewat Jalur Furoda

    Tutup Rapat-rapat Harapan Naik Haji lewat Jalur Furoda

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle REDAKSI
    • visibility 637
    • 0Komentar

    SAUDI – Umat muslim yang ingin berangkat haji lewat jalur Furoda harus menutup harapannya tahun ini. Hampir pasti tidak ada kuota haji furoda, perusahaan pelaksana haji pun diminta tidak memberi janji atau iming-iming kepada jemaahnya untuk berangkat haji furoda tahun ini. Hingga mendekati puncak pelaksanaan Wukuf di Arafah, haji non-kuota yang kerap kali keluar jelang […]

    Bagikan Berita:
  • Cerita Abdullah bin Mubarak dan Haji sebagai Atap Bangunan Keislaman

    Cerita Abdullah bin Mubarak dan Haji sebagai Atap Bangunan Keislaman

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Imam Dzulkifli
    • visibility 205
    • 0Komentar

    HAMRANEWS.ID – Bulan Zulhijah bukan sekadar bulan penutup dalam kalender Hijriah, melainkan puncak dari perjalanan spiritual seorang Muslim. Bersama bulan Syawal dan Zulkaidah, Zulhijah termasuk dalam asyhur maklumat atau bulan-bulan yang ditentukan untuk ibadah haji. Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., MA, dalam tausiah terkait Bulan Zulhijjah di Kantor Travel Haji dan Umrah Tazkiyah Tour, […]

    Bagikan Berita:
  • Jemaah Asal Indonesia Alami Henti Jantung di Nabawi, Berhasil Diselamatkan SRCA

    Jemaah Asal Indonesia Alami Henti Jantung di Nabawi, Berhasil Diselamatkan SRCA

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Fadli
    • visibility 295
    • 0Komentar

    HAMRANEWS – Seorang jemaah asal Indonesia dilaporkan mengalami henti jantung dan henti napas di pelataran Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Beruntung, tim medis SRCA bergerak cepat menyelamatkan jemaah tersebut. Insiden tersebut terjadi sesaat setelah pelaksanaan salat Maghrib pada Senin 3 Maret 2026. Tim medis dari Saudi Red Crescent Authority (SRCA) atau Bulan Sabit Merah Arab […]

    Bagikan Berita:
  • Arab Saudi Setop Operasional Empat Perusahaan Umrah karena Pelanggaran Fasilitas Akomodasi Jemaah

    Arab Saudi Setop Operasional Empat Perusahaan Umrah karena Pelanggaran Fasilitas Akomodasi Jemaah

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Imam Dzulkifli
    • visibility 659
    • 0Komentar

    SAUDI – Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi membekukan operasional empat perusahaan penyedia layanan umrah, serta menjatuhkan sanksi denda kepada beberapa perusahaan lainnya setelah ditemukan pelanggaran terkait penyediaan akomodasi yang tidak memadai bagi jemaah. Tindakan tegas tersebut diambil menyusul serangkaian inspeksi lapangan mendadak yang dilakukan untuk memastikan para penyedia layanan umrah memenuhi kewajiban kontraktual sebagaimana […]

    Bagikan Berita:
expand_less