Wahai Jemaah, Berhentilah Meromantisasi Umrah: Tanah Suci Bukan Tempat untuk Pamer, tapi Ujian
- account_circle Muhammad Fadli
- calendar_month 37 menit yang lalu
- visibility 2
- print Cetak

Tamu Allah sedang Shalat di Tanah Suci
HAMRANEWS.ID – Konten kreator asal Malaysia, pemilik akun Instagram @thediyjuju, mengajak umat Islam untuk berhenti meromantisasi perjalanan umrah sebagai sebuah liburan atau ajang memamerkan kemewahan.
Pesan tersebut disampaikan melalui sebuah video blog yang menyoroti kebiasaan sebagian jemaah mengabadikan perjalanan ibadahnya melalui media sosial.
“Teman-teman, bisakah kita semua berhenti meromantisasi Umrah? Umrah ini bukan tempat untuk kita pamer (flexing),” ujarnya dalam video tersebut.
Menurutnya, ibadah umrah bukan tentang seberapa tinggi bintang hotel yang ditempati, barang mewah yang dibeli, maupun mendapatkan foto swafoto yang sempurna ketika tawaf.
“Dan yang paling penting, Umrah bukanlah liburan. Jelas bukan tempat untuk bersantai-santai seperti di lokasi lainnya. Umrah adalah ujian,” katanya.
Ia menggambarkan umrah sebagai proses untuk menguji disiplin dan ihsan seseorang, terutama ketika berada dalam situasi yang menguras emosi.
Salah satunya ketika jemaah menghadapi kepadatan di sekitar Masjidil Haram.
“Umrah adalah tentang mengendalikan amarah kita ketika kerumunan orang menguji emosi kita. Kepala terbentur, terdorong, badan terdorong, tertabrak kursi roda,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas ibadah justru diuji ketika tubuh dalam kondisi lelah.
“Umrah adalah memilih beribadah di saat kita sedang lelah. Ini tentang menutup aplikasi ponsel kita di saat nafsu kita sangat ingin terus menggulir (scrolling),” lanjutnya.
Konten kreator tersebut juga menyinggung kondisi ketika seseorang berada di depan Ka’bah tetapi tidak merasakan suasana emosional seperti yang dibayangkan.
“Umrah adalah tentang memperbanyak doa bahkan di saat kamu tidak merasakan apa-apa meskipun berada di depan Ka’bah,” ujarnya.
Ia kemudian menggambarkan perjuangan menyelesaikan rangkaian ibadah ketika fisik mulai kelelahan.
“Ini tentang menyelesaikan Sa’i meskipun tumit terasa ingin terlepas karena lelah. Ini tentang berdiri melaksanakan Tahajud jam 2 pagi di saat tubuh kita masih sangat ingin tidur.”
Karena itu, perjalanan umrah semestinya tidak berhenti pada dokumentasi perjalanan, kemewahan hotel atau banyaknya unggahan di media sosial.
“Semua itu adalah ujian alias proses untuk menanggalkan versi lama dari diri kita, langkah demi langkah,” kata @thediyjuju.
Ia pun mengajak jemaah menjadikan Tanah Suci sebagai momentum untuk kembali mengingat tujuan hidup, bukan sekadar mendapatkan pengalaman perjalanan yang indah.
“Umrah bukanlah tentang kenyamanan. Ini adalah undangan untuk kembali kepada tujuan hidup kita. Jangan tinggalkan Makkah sebagai orang yang sama saat kamu memasukinya.”
- Penulis: Muhammad Fadli
- Editor: Fitriani Heli
